Saturday, January 9, 2016

ANALISIS STUDI KELAYAKAN TEMPAT BERDIRINYA INSTALASI FARMASI DI RUMAH SAKIT PENDIDIKAN USU

Tugas Mata Kuliah Farmasi Rumah Sakit 2015-2016

BAB I
PENDAHULUAN

Strategic Business Planning bertujuan untuk menyusun strategi-strategi jangka panjang sehingga arah dan tujua perusahaan dapat dicapai dengan jelas dan dapat segera diambil keputusan beserta semua dinamiknya dalam menghadapi pesaing. Dengan demikian, seseorang yang sudah lama terlibat ataupun baru memasuki sudah lama terlibat ataupun baru memasuki dunia bisnis pasti memerlukan perencanaan bisnis yang akurat untuk memusatkan perhatian pada posisi di bisnis tersebut, mengetahui arah perusahaan akan pergi, cara mencapainya, serta tindakan yang perlu dilakukan agar memaksimalkan kekuatan dan berhasil merebut peluang yang ada. Oleh karena itu, perencanaan bisnis yang baik merupakan alat yang sangat berguna untuk menjalankan bisnis secara efektif dan efisien (Rangkuti, 2009)
Rumah Sakit Pendidikan adalah rumah sakit yang merupakan jejaringan institusi pendidikan kedokteran dan digunakan sebagai wahana pembelajaran klinik untuk memenuhi modul pendidikan dalam rangka mencapai kompetensi berdasarkan standar pendidikan profesi kedokteran. Pelayanan RS pendidikan bebeda dengan RS non-pendidikan dalam hal :
1.      Penjamin mutu pelayanan dan keselamatan pasien serta kedoteran bebasis bukti.
2.      Penerapan metode penatalaksanaan terapi terbaru
3.      Teknologi kedokteran yang bertepat guna
4.      Hari rawat yang lebih pendek untuk penyakit yang sama
5.      Hasil pengobatan dan survival rate yang lebih baik
6.      Tersedianya konsultasi dari staf medis pendidikan selama 24 jam
Terdapat penilaian terhadap standar dan parameter yang harus dipenuhi sebuah rumah sakit untuk ditetapkan RS pendidikan. Untuk akreditasi dan reakreditasi, penetapan parameter penilaian akreditasi pendidikan dokter dilakukan oleh organisasi kedokteran. Menteri Kesehatan dapat menetapkan , membatalkan, mencabut, atau menunda pemberian Surat Keputusan Rumah Sakit Pendidikan tergantung dari hasil akreditasi tersebut.
Berdasarkan definisi tersebut maka Instalasi Farmasi Rumah Sakit secara umum dapat diartikan sebagai suatu departemen atau unit atau bagian di suatu rumah sakit di bawah pimpinan seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi persyaratan perundang-undangan yang berlaku dan bertanggungjawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian, yang terdiri pelayanan paripurna yang mencakup perencanaan, pengadaan, produksi, penyimpanan perbekalan kesehatan/ sediaan farmasi.
BAB II
PEMBAHASAN

Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah suatu bagian / unit / divisi atau fasilitas di rumah sakit, tempat penyelenggaraan semua kegiatan pekerjaan kefarmasian yang ditujukan untuk keperluan rumah sakit itu sendiri (Siregar dan Amalia, 2004)
Berdasarkan definisi tersebut maka Instalasi Farmasi Rumah Sakit secara umum dapat diartikan sebagai suatu departemen atau unit atau bagian di suatu rumah sakit di bawah pimpinan seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi persyaratan perundang-undangan yang berlaku dan bertanggungjawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian, yang terdiri pelayanan paripurna yang mencakup perencanaan, pengadaan, produksi, penyimpanan perbekalan kesehatan/ sediaan farmasi ; dispensing obat berdasarkan resep bagi penderita saat tinggal dan rawat jalan; pengendalian mutu dan pengendalian mutu dan pengendalian distribusi dan penggunaan seluruh perbekalan kesehatan di rumah sakit. Pelayanan farmasi klinik umum dan spesialis mencakup pelayanan langsung pada penderita dan pelayanan klinik yang merupakan program rumah sakit secara keseluruhan (Siregar dan Amalia, 2004)
Didalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang standar pelayanan rumah sakit, yang menyebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari system pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien (patient oriented). Hal tersebut juga terdapat dalam keputusan Menteri Kesehatan No. 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, disebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu (Anonim, 2006).
Tugas utama Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah pengelolaan mulai dari perencanaan, pengadaan, penyimpanan, penyiapan, peracikan, pelayanan langsung kepada penderita sampai dengan pengendalian semua perbekalan kesehatan yang beredar dan digunakan dalam rumah sakit, baik untuk penderita rawat tinggal, rawat jalan mau pun untuk semua unit termasuk poliklinik rumah sakit (Siregar dan Amalia, 2004).
Berkaitan dengan pengelolaan tersebut, Instalasi Farmasi Rumah Sakit harus menyediakan obat untuk terapi yang optimal bagi semua penderita dan menjamin pelayanan bermutu tinggi dan yang paling bermanfaat dengan biaya minimal. Jadi Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah satu-satunya unit di rumah sakit yang bertugas dan bertanggungjawab sepenuhnya pada pengelolaan semua aspek yang berkaitan dengan obat/perbekalan kesehatan yang beredar dan digunakan di rumah sakit tersebut. Instalasi Farmasi Rumah Sakit bertanggungjawab mengembangkan suatu pelayanan farmasi yang luas dan terkoordinasi dengan baik dan tepat untuk memenuhi kebutuhan berbagai bagian atau unit diagnosis dan terapi, unit pelayanan keperawatan, staf medic, dan rumah sakit keseluruhan untuk kepentingan pelayanan penderita yang lebih baik (Siregar dan Amalia, 2004).
Berdasarkan tingkatannya, RS Pendidikan dibagi menjadi RS Pendidikan Utama, Aafiiasi, dan Satelit. Berikut adalah kriteria umum yang harus dipenuhi ketiga klisifikasi RS Pendidikan.
1.      Terdapat visi, misi, dan tuuan Rumah Sakit secara tertulis yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan profesi kedokteran.
2.      Terdapatdokumen perjanjian kerja sama antara Direktur RS Pendidikan dengan Pimpinan Institusi Pendidikan Kedokteran meliputi aspek medikolegal, sumber daya manusia, pembiayaan, sarana prasarana, manajemen pendidikan dan daya tampung peserta didik.
3.      Kesepakatan tersebut harus bersifat saling mengikat dalam hal seluruh proses pendidikan kedokteran.
4.      Pelayanan di rumah sakit telah terakreditasi.
5.      Rumah sakit telah memiliki SK Penetapan Menteri Kesehatan sebagai RS Pendidikan
6.      Memiliki 4 pelayanan spesialis dasar (penyakit dalam, anak, bedah, kebidanan dan kandungan). RS Pendidikan Utama memiliki 11 pelayanan spesialis lainnya, sedangkan RS Pendidikan satelit memiliki 4 pelayanan spesialis lainnya.
Untuk menetapkan suatu Rumah Sakit menjadi Rumah Sakit Pendidikan diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:
1.      Secara permohonan dari pemilik/pimpinan RS untuk penetapan rumahsakitnya sebagai RS Pendidikan kepada Menteri Kesehatan RI c.q. Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan.
2.      Izin Operasional/Izin Penyelenggaraan Rumah Sakit yang masih berlaku.
3.      Surat penetapan Kelas RS (dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI).
4.      Surat Pernyataan Kesediaan Pemilik Rumah Sakit (sanggup menyediakan anggaran, sarana dan prasana pendukung dalam rangka pemanfaatan rumah sakitnya sebagai RS Pendidikan)
5.      Naskah Perjanjian Kerja sama antara Fakultas Kedokteran dengan Rumah Sakit.
6.      Surat Rekomendasi (dari Dinas Kesehatan Provinsi).
7.      Profil RumahSakit 3 tahun terakhir.
8.      Isian Borang Penilaian Penetapan Rumah Sakit Pendidikan (sesuai denga kriteraia/ kedudukan RS Pendidikan (sesuai dengan kriteria/kedudukan RS Pendidikan tersebut terhadap Fakultas Kedokterannya).
Analisis SWOT adalah langkah awal dari suatu perencanaan strategi pengembangan. Dimulai dengan identifikasi masalah, tujuan organisasi sampai pada menimbang kekuatan dan kelemahan sendiri serta peluang dan ancaman dari luar dan juga melakukan beberapa langkah penting yang menunjang pemasaran atau pengembangan. Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal peluang (opportunity) dan ancaman (threat) dengan faktor internal kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) (Pearce and Robinson 1996 ; Wahyudi 1996).
Analisa SWOT adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran). Analisa ini menempatkan situasi dan kondisi sebagai sebagai faktor masukan, yang kemudian dikelompokkan menurut kontribusinya masing-masing. Satu hal yang harus diingat baik-baik oleh para pengguna analisa SWOT, bahwa analisa SWOT adalah semata-mata sebuah alat analisa yang ditujukan untuk menggambarkan situasi yang sedang dihadapi atau yang mungkin akan dihadapi oleh organisasi, dan bukan sebuah alat analisa ajaib yang mampu memberikan jalan keluar yang cespleng bagi masalah-masalah yang dihadapi oleh organisasi.
Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu : 
1. Strength (S), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi atau program pada saat ini. 
2. Weakness (W), adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari organisasi atau program pada saat ini.
3. Opportunity (O), adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang diluar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi dimasa depan.
4. Threat (T), adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang dari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi dimasa depan.
Teknik Analisa Data
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini dengan metode analisa kualitatif dan analisisnya menggunakan analisis SWOT. Rangkuti (2001), analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan strengths dan opportunities, namun secara bersamaan dapat meminimalkan weaknesses dan threats. Strength, weakness, opportunity dan threat merupakan faktor-faktor strategis perusahaan yang perlu dianalisis dalam kondisi yang ada saat ini. Hal ini disebut pula analisis situasi dengan model analisis SWOT. Cara melakukan analisis SWOT adalah melakukan identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal, setelah faktor-faktor teridentifikasi maka dilakukan pembobotan serta ranking. Bobot dikalikan rating setiap faktor mendapatkan skor untuk faktor-faktor tersebut. Bobot dihitung, 0.0 (tidak penting) sampai 1.0 (sangat penting). Jumlah bobot untuk opportunity dan threat adalah 1.00, demikian pula jumlah bobot strength dan weaknes juga satu. Rating opportunity mulai dari angka 1 (dibawah rata-rata), 2 ratarata, 3 (diatas rata-rata) dan 4 (sangat baik), berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. Nilai rating opportunity dan threat selalu bertolak belakang, misalnya apabila faktor threat nya lebih besar, diberi nilai 4. Begitu pula pemberian nilai untuk strength dan weaknes. Dalam analisis SWOT, berdasarkan score yang didapat apakah ada opportunity (nilai positif) atau threat (negatif), dan apakah faktor strength mengungguli (+) weakness (-) maka didapat 4 kwadran rekomendasi. Adapun gambar diagram Cartesius kuadran analisis SWOT.

Menetapkan bobot berdasarkan kontribusi atas pengaruh strength atau weakness tersebut terhadap pencapaian tujuan dan misi atau visi perusahaan. Semakin besar bobotnya, berarti semakin tinggi konstribusi/pengaruhnya terhadap pencapaian tujuan dan misi atau visi Warnet Global Internet. Menetapkan ranting dengan membandingkan posisi setiap faktor dengan pesaing utama, untuk faktor yang sama misalnya, bila faktor strenght lebih baik dari usaha pesaing, maka rantingnya bisa 4 (sangat baik).
Pembahasan Hasil Analisis SWOT
Sebagaimana penulis kemukakan pada bab sebelumnya, bahwa dalam pembahasan hasil penelitian dan sesuai tujuan penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan teori SWOT analisis yaitu Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats. Pada bagian ini Analisis SWOT digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor strategis internal dalam kerangka Strength dan Weaknessserta faktor-faktor strategis eksternal dalam kerangka Opportunity dan Threat. Serta untuk menentukan alternatif strategi dan penentuan pilihan strategi pengembangan usaha bisnis jasa Warnet Global Internet.

Analisis Faktor Internal dan Eksternal Menggunakan IFAS dan EFAS
Tahap-tahap dalam menyusun tabel Internal Factor Analysis Summary (IFAS) dan Eksternal Factor Analysis Summary (EFAS) dengan menentukan faktor-faktor yang menjadi Strength serta Weakness Global Internet, selanjutnya memberikan bobot masing-masing faktor dari skala mulai dari 0,0 (tidak penting) sampai dengan 1,0 (sangaat penting) dimana semua bobot tersebut jumlahnya tidak melebihi skor total 1,00. Menghitung ranting untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 1 (dibawah rata-rata) sampai dengan 4 (sangat baik). Nilai ranting Strength dan Weakness selalu bertolak belakang, begitu juga dengan Opportunity dan Threat.

Rumah Sakit USU terletak di depan pintu III. Rumah Sakit USU yang terletak di jalan dr. Mansyur tepatnya di depan pintu III, dilihat dari luar sudah mulai dikunjungi masyarakat, walaupun selama ini hanya didominasi oleh mahasiswa USU sendiri.
            Rumah Sakit USU letaknya strategis karena terletak di tengah kota selain itu juga merupakan jalan lintas yang sangat ramai karena berada di kawasa kampus USU. Akan tetapi terdapat sedikit kendala jika terjadi hujan deras dapat menyebabkan kemacetan menuju Rumah Sakit USU karena jalan raya mengalami banjir menuju akses ke Rumah Sakit USU.
Menurut kami, tata letak Rumah Sakit USU sudah memenuhi standar dimana telah disediakannya tempat parkir yang cukup luas dan teratur. Pasien juga diharapkan akan merasa nyaman dengan tersedianya sedikit taman yang berada di sekitar halaman rumah sakit USU.
Rumah Sakit USU merupakan Rumah Sakit Pendidikan sehingga jika ditinjau dari sisi SDM di RS USU secara kuantitas memiliki banyak SDM karena setiap instalasi atau bagian yang ada di rumah sakit memiliki banyak peminat dari lulusan USU, secara kualitas kepala atau penanggung jawab instalasi atau bagia di setiap rumah sakit diketahui sampai saat ini dipimpin oleh dosen-dosen dari USU yang dianggap sudah layak dan berkompeten. Masyarakat yang berkunjung masih beberapa sebab belum resminya rumah sakit USU menurut undang-undang, serta belum tersedia secara lengkap alat-alat penunjang untuk rumah sakit secara standar.



STRENGTH
BOBOT
NILAI
SKOR
Instalasi Farmasi Rumah Sakit USU memiliki struktur organisasi
0,1
3
0,3
Rumah Sakit USU memiliki potensi SDM karena lulusan USU menjadi peminat utama di Rumah Sakit USU
0,2
4
0,8
Instalasi Rumah Sakit USU memiliki SOP yang lengkap
0,2
4
0,8
Rumah Sakit USU berada di bawah kuasa Universitas Sumatera Utara
0,05
2
0,1
TOTAL


2

Weakness
BOBOT
NILAI
SKOR
Lokasi Rumah Sakit di wilayah yang tidak bebas banjir
0,2
3
0,6
Jalan Dr. Mansyur menjadi daerah yang padat saat jam-jam sibuk, sehingga tidak efektif jika ada keadaan gawat darurat
0,2
3
0,6
Fasilitas Instalasi yang belum lengkap
0,3
3
0,9
Kondisi keamanan Rumah Sakit USU yang minim
0,1
2
0,2
Perlengkapan farmasi yang tidak sempurna
0,1
3
0,3
Operasional Rumah Sakit USU yang belum jelas
0,2
3
0,6
TOTAL


3,2
           
OPPORTUNITY
BOBOT
NILAI
SKOR
Memiliki jaringan kerjasama di pengadaan perbekalan farmasi
0,2
4
0,8
Peluang pasar yang dekat dengan pemukiman dan pusat aktivitas bisnis
0,1
3
0,3
TOTAL


1,1

TREATH
BOBOT
NILAI
SKOR
Intervensi media terhadap pencitraan Rumah Sakit USU
0,3
3
0,9
Munculnya apotek dan toko obat baru di sekitar wilayah Rumah Sakit USU
0,2
3
0,6
TOTAL


1,5






II.  Stabilitas

Weakness ( - 3,2 )
Opportunity ( 1,1 )

I.    Growth




III.      Defence

Threat ( -1,5 )
  ( 2 ) Strength

IV.   Difersifikasi



Dari hasil analisa, Strength memilki poin 2, Opportunity 1,1. Weakness -3,2, dan Threat (-1,5). Maka, di dapatkan bahwa, weakness memilki nilaiskor tertinggi. Dengan nilai keseluruhan mengarah kepada defence yang berarti lebih memperbaiki internal.



BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Kelayakan lokasi instalasi farmasi di RSU Pendidikan USU adalah layak dengan peningkatan faktor-faktor internal dan juga upaya-upaya pemanfaatan jaringan kefarmasian.


Saran
Sebaiknya, untuk analisa selanjutnya menggunakan data yang lebih valid dan sumber yang lebih banyak. Implementasi dari perencanaan sebaiknya dilaksanakan karena apabila tidak dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, maka hasil yang diinginkan sulit untuk didapatkan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2006, Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, 1, 5, 14-17, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Cleland, I., David. 1978. Strategic Planning and Policy. Van Nostrand Reinhold, New York.
Siregar, Ch. J.P., dan Amalia, L., 2004, Farmasi Rumah Sakit, Teori dan Penerapan, 25 – 49, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Prawirokusumo, Soeharto. 2000. Manajemen Strategik. Andi, Yogyakarta.

YOGURT JANDA : YOGURT DENGAN EKSTRAK DAUN JATI BELANDA SEBAGAI PELANGSING

        Kegemukan atau obesitas terjadi antara lain karena konsumsi makanan yang melebihi kebutuhan Angka Kecukupan Gizi (AKG) per hari. Bila kelebihan ini terjadi dalam jangka waktu lama, dan tidak diimbangi dengan aktivitas yang cukup untuk membakar kelebihan energi, maka kelebihan energi tersebut akan diubah menjadi lemak dan ditimbun di dalam sel lemak di bawah kulit. Jika penimbunan semakin banyak maka akan terjadi perubah ananatomis. Penderita obesitas biasanya akan mengalami masalah kesehatan seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner dan hipertensi, kanker, penyakit ginjal, dan penyakit hati yang dapat menyebabkan kematian (Purnomo, 2008). 
      Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menangani obesitas antara lain: olahraga, diet, terapi psikologis, dan operasi. Ada beberapa opsi untuk mengatasi obesitas, yaitu: kurangi makanan yang mengandung minyak dan lemak, perbanyak olahraga, kurangi porsi makan, kurangi mengemil makan (Wijayanti, 2013).  
      Langkah pengaturan diet selalu dimulai dahulu dan tindakan tersebut mungkin dapat menghindari perlunya penggunaan obat. Obat sintetik yang dapat digunakan sebagai antihiperlipidemia yaitu Lovastatin, simvastatin, pravastatin, atrovastatin, fluvastatin dan cerivastatin (Katzung, 2007).Sementara itu masyarakat Indonesia secara turun temurun menggunakan daun Jati Belanda (Guazuma ulmifoliaLamk) sebagai obat penurun kolesterol.  Pramono et al melaporkan bahwa lender daun jati belanda per oral dapat menghambat perkembangan berat badan tikus dibandingkan kontrol (air suling).
     Monika dan Farida (2000) juga melaporkan bahwa ekstrak daun jati belanda per oral dapat menurunkan konsentrasi kolesterol total darah kelinci. Joshita et al pun melaporkan bahwa seduhan daun jati belanda berpengaruh meningkatkan aktivitas enzim lipase secara in vitro.(Purnomo, 2008). 
      Mann danSpoerry (1974) menguji penurunan kadar kolesterol darah pada orang yang menerima asupan susu fermentasi dengan Lactobacillus dalam jumlah besar (8.33 L/orang/hari). Hasilnya kadar kolesterol darah rendah walaupun mereka mengkonsumsi daging dalam jumlah yang besar. Konsumsi yogurt dalam jumlah besar ditemukan bertanggung jawab terhadap penurunan kolesterol darah (Chandan, 2006).
      Yogurt Janda memiliki peluang potensi menurunkan berat badan (pelangsing) melalui mekanisme penghambatan penyerapan di usus melalui pengendapan protein.Produk Yogurt Janda berpeluang memilki stabilitas yang baik dan disukai masyarakat terutama masyarakat yang obesitas, serta berpeluang menjadi sediaan nutraseutikal yang memiliki efek anti hipertensi, meningkatkan kekebalan  tubuh, anti kanker, mencegah penyakit komplikasi akibat diabetes dan lain-lain []. 

PEMANFAATAN EKSTRAK ETANOL DAN INFUSA BAYAM DURI SEBAGAI ANTIMALARIA DALAM UPAYA MENUJU INDONESIA BEBAS MALARIA

Oleh : Gita Perdana


Malaria adalah penyakit yang mengancam keselamatan jiwa yang disebabkan oleh parasit yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi parasit Plasmodium. Setiap 30 detik seorang anak meninggal akibat malaria. Terdapat 247 juta kasus malaria tahun 2006, dan setidaknya 1 juta meninggal (WHO, 2013).
Indonesia salah satu negara yang endemis malaria. Sampai tahun 2009, sekitar 80% kabupaten/Kota masih termasuk katagori endemis malaria dan sekitar 45% penduduk bertempat tinggal di daerah yang berisiko tertular malaria. Sementara jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 2009 sebanyak 1.143.024 orang. Berdasarkan Pemprovsu (2010), Sumatera Utara merupakan daerah yang endemis malaria di antaranya Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Labuhan Batu, Serdang Bedagai, Asahan, Samosir, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Nias, Nias Selatan, Batu Bara, Padang Lawas, Padang Lawas Utara dan Kabupaten Labuhan Batu Utara. Salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang endemis malaria seperti Kabupaten Nias Selatan merupakan daerah tertinggi kasus malaria di Sumut dengan 1.163 kasus (3,73 persen), Madina dengan 1.225 kasus (3,12 persen), Batu Bara dengan 785 kasus (2,07 persen), Labuhan Batu Utara (Labura) dengan 658 kasus (1,97 persen).
Menurut Sutisna (2006), ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan jumlah penderita malaria yaitu perubahan iklim, gagalnya pemberantasan vektor malaria, resistensi terhadap obat malaria bahkan juga sudah terjadi pada Klorokuin yang menjadi andalan sebagai antimalaria pada saat ini.
Klorokuin menjadi obat antimalaria pilihan utama untuk pengobatan pasien malaria selama 50 tahun ini, tetapi berkembangnya P. falciparum yang resisten terhadap obat ini telah menjadi masalah yang sangat besar. Depkes RI (2004) melaporkan kasus P. Falciparum resisten klorokuin di Indonesia telah ditemukan di 12 propinsi pada 14 kabupaten yaitu Propinsi Nangro Aceh Darusalam, Lampung, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, Maluku, Maluku Utara dan DKI Jakarta. Kemudian resistensi ini terus menyebar dan selanjutnya kasus-kasus malaria yang resisten klorokuin sudah ditemukan di seluruh propinsi Indonesia.
Mustofa (2003) menyatakan bahwa timbulnya resistensi terhadap obat antimalaria seperti klorokuin dan lainnya ikut mendorong gerakan kembali ke alam untuk mencari obat lain dengan mekanisme kerja yang berlainan serta mengembangkan antigen dan vaksin antimalaria. Upaya untuk menemukan antimalaria baru dari tanaman obat telah dilakukan secara sangat intensif pada beberapa dasawarsa terakhir ini oleh beberapa peneliti dunia.
Salah satu pemecahan masalah resistensi obat malaria adalah mencari alternatif pengobatan yang berasal dari tanaman herbal yang banyak tumbuh di Indonesia. Semenjak ditemukannya Artemesinin sebagai pengobatan malaria dari herbal Artemisiaannua, hal ini menjadi perhatian yang besar diseluruh dunia, juga di Indonesia. Banyak tumbuhan herbal sebagai anti malaria telah diteliti, seperti sambiloto, ceplukan, daun sabrang, tetapi belum banyak yang meneliti tentang bayam duri.
Bayam duri (Amaranthus spinosus) merupakan tanaman yang tersebar luas didaerah tropis dan bersuhu hangat di Asia, mulai dari Jepang, Indonesia, hingga India (Mishra, 2012). Tanaman ini merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang digunakan untuk berbagai macam keperluan antara lain sebagai antipiretik, diuretik, antiinflamasi, antibakterial, dan antimalaria (Mishra, 2012 dan Vardana, 2012). Tumbuhan ini banyak tumbuh liar di kebun-kebun, tepi jalan, tanah kosong dari dataran rendah sampai dengan ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut. Bayam duri bisa tumbuh di seluruh wilayah Indonesia.
Menurut penelitian Azeredo (2009), secara kimiawi bayam duri mengandung sejumlah konstituen aktif mencakup alkaloid, flavonoid, glikosida, asam fenolat, steroid, asam amino, terpenoid, lipid, sapoin, betalain, B sitosterol, stigmasterol, asam linoleat,amaranthosida, amarisin, dan lain lain. Kelompok alkaloid terdiri atas sejumlah betalain dan molekul turunannya. Betalain sudah dikenal karena khasiatnya sebagai antioksidan, antikanker, antiviral, dan antiparasit. Betalain merupakan pigmen kelompok alkaloid yang larut dalam air terdiri atas betasianin yang berwarna violet dan betaxant hin yang berwarna kuning.
Penelitian Hilou (2006) tentang hasil liopilisasi bayamduri dan boerhaavia erecta menunjukkan bahwa kombinasi kedua ekstrak herbal ini mempunyai aktivitas skizontisidal darah malaria. Purniawan (2012) membuktikan bahwa ekstrak etanol bayam duri memiliki aktivitas skizontisidal secara in vitro. Penelitian Susantiningsih (2011) sebelumnya mengenai ektrak etanol bayamduri mampu meningkatkan survival mencit terinfeksi Plasmodium berghei. Penelitian dari Susantiningsih (2012) dengan membuat ekstraksi Sebanyak  500 g bayamduri diekstraksi dengan etanol 70%. Diperoleh ekstrak kering seberat 70,0 g. Pembuatan infusa dengan menimbang sebanyak 10 g simplisia bayamduri dicampurkan dengan akuabides sebanyak 100 ml, kemudian dipanaskan pada suhu 90°C selama 15 menit dan dihasilkan sari berupa ekstrak air bayam duri 10%. Larutan terapi diberikan kepada mencit dengan dosis yang telah ditentukan. Kemudian penelitian Susantiningsih membuktikan bahwa bayam duri dengan dosis 100 mg/kgBB mempunyai efek skizontisidal yang sama baik dengan kelompok yang diberi klorokuin, sedangkan persen penghambatan parasitemia pada kelompok yang diberi terapi ekstrak bayamduri sebesar 62, 29 ± 0,96%. Sementara, dengan dosis 10 mg/kgBB ekstrak etanol bayam duri memberikan hambatan yang cukup signifikan yaitu 69,42%.
Menurut Susantiningsih (2012), betalain dan senyawa antioksidan lain yang larut pada proses pembuatan infusa bayam duri, mempunyai kemampuan antimalaria yang sangat ampuh. Hilou et al menyatakan bahwa hal ini kemungkinan karena zat berkhasiat pada bayam duri yang menjadi pusat kerja anti malaria betanin dan amaranthin. Kedua senyawa ini mempunyai gugus orthodiphenol dan sejumlah karbon yang mampu mengkelasi kation seperti Ca2+, Fe2+, dan Mg2+ yang ada di dalam parasit.
Aktivitas antioksidan bayamduri bekerja dengan mencegah terjadinya peroksidasi lipid dan sel endotel yang juga berperan dalam mekanisme komplikasi sistemik dari malaria. Amina siklik pada betalain yang mirip dengan ethoxyquine merupakan gugus yang reaktif sehingga dengan satu gugus fenolik atau amina asiklik, betasianin dan betaxhantin mampu menjadi donor elektron yang sangat baik sehingga mampu menstabilkan senyawa radikal.

Ekstrak etanol dan infusa bayam duri (Amaranthus spinosus L.) memiliki aktivitas anti malaria terhadap mencit yang diinfeksi Plasmodium berghei. Selanjutnya, dibutuhkan penelitian-penelitian klinis mengenai bayam duri kemudian diaplikasikan di masyarakat. Bayam duri mampu menjadi pilihan pengobatan malaria terutama untuk wilayah-wilayah yang endemik malaria dan resistensi obat-obat anti malaria serta kekurangan fasilitas kesehatan untuk mewujudkan Indonesia bebas malaria [ ].

VAKSIN ANTIHIPERTENSI SEBAGAI PENGOBATAN HIPERTENSI MASA DEPAN

Oleh : Gita Perdana

Hipertensi menjadi salah satu penyakit pembunuh diam-diam (silent killer) yang dikenal sebagai penyakit kardiovaskular. Meningkatnya tekanan darah dan gaya hidup yang tidak seimbang dapat meningkatkan faktor risiko munculnya berbagai penyakit seperti arteri koroner, gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Diseluruh dunia hampir satu milyar orang menderita tekanan darah tinggi (hipertensi). Menurut WHO (2011) dua per tiga penyakit hipertensi ini terjadi di Negara berkembang. Di tahun 2025 diperkirakan 1,56 milyar orang menderita hipertensi. Hipertensi mengakibatkan 8 juta orang meninggal setiap tahunya. Dan di Asia Tenggara 1,5 juta orang meninggal dunia akibat hipertensi. Kira-kira sepertiga populasi penduduk di asia tenggara mempunyai penyakit hipertensi. Hipertensi merupakan penyebab kematian ke-3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni  mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar (2007) menunjukan prevalensi hipertensi secara nasional mencapai 31,7%.
Menurut Ikeda (2014), penyumbang terbesar penyakit hipertensi di dunia adalah Amerika dengan prevalensi sebesar 83,9% pada tahun 2009-2010 terjadi pada umur 35-49 tahun. Di Indonesia, prevalensi hipertensi sebesar 25,8% terjadi pada usia ≥ 18 tahun. Penderita hipertensi yang paling banyak berasal dari kalangan menengah ke bawah yang tinggal di perkotaan dengan status pengangguran.
Menurut Rohman (2011) penyebab tidak terkontrolnya tekanan darah tinggi sebanyak 53,2% adalah minum obat tidak teratur, keberhasilan suatu terapi tidak hanya dari ketepatan diagnosa, pemilihan dan pemberian obat yang tepat, namun kepatuhan pengobatan juga menjadi penentu keberhasilan. Khususnya untuk terapi jangka panjang pada beberapa penyakit kronis diantaranya hipertensi, kepatuhan sangatlah penting. Sebab ketidakpatuhan terhadap terapi pengobatan akan berdampak negatif terhadap kualitas hidup pasien itu sendiri. Mahalnya obat-obat untuk mengobati hipertensi tidak dapat ditanggung oleh masyarakat ekonomi lemah sehingga upaya - upaya mencari pengobatan alternatif mulai dilakukan.
Menurut Depkes RI (2006) hipertensi adalah penyakit tekanan darah tinggi di atas batas normal (120/80 mmHg). Para ahli medis menetapkan bahwa 120 - 139/80 - 89 dikatakan sebagai prehipertensi. Berdasarkan etiologi patofisiologinya hipertensi dapat dibedakan menjadi hipertensi primer (esensial) yang tidak diketahui penyebabnya dan hipertensi sekunder (non esensial) yang diketahui penyebabnya.
Guyton (1993) menyatakan bahwa mekanisme pengaturan tekanan darah dapat dibagi menjadi dua tipe yaitu pengaturan tekanan darah jangka pendek dan pengaturan tekanan darah jangka pendek. Pengaturan tekanan darah jangka panjang diperantarai oleh mekanisme ginjal cairan tubuh dan sistem renin angiotensin aldosteron. Pengaturan tekanan darah jangka pendek bekerja melalui saraf dengan pengaturan baroreseptor dan kemoreseptor pembuluh darah arteri.
Tujuan umum pengobatan hipertensi adalah menurunkan mortalitas dan morbiditas yang berhubungan dengan kerusakan organ target seperti gagal jantung, penyakit jantung koroner atau penyakit ginjal kronik. Target nilai tekanan darah yang di rekomendasikan dalam JNC VII adalah <140/90 mmHg untuk pasien dengan tanpa komplikasi, <130/80 mmHg untuk pasien dengan diabetes dan penyakit ginjal kronis (Dipiro, et al., 2008).
Obat Antihipertensi
1.             Diuretik
          Diuretik adalah obat antihipertensi yang bekerja dengan meningkatkan pengeluaran urin (diuresis) melalui kerja langsung terhadap ginjal.
2.             Penghambat enzim pengubah angiotensin (ACEi)
          ACEi menurunkan produksi angiotensin II, meningkatkan kadar bradikinin, dan menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis melalui penurunan curah jantung dan dilatasi pembuluh arteri akibat berkurangnya jumlah angiotensin II  di dalam darah. Obat-obat yang termasuk dalam golongan ini adalah kaptopril, enalapril, ramipril, lisinoril.


3.             Antagonis kalsium 
          Antagonis kalsium bekerja menurunkan tahanan vaskular dan menurunkan kalsium intraseluler. Ion kalsium di jantung mempengaruhi kontraktilitas otot jantung. Kelebihan ion ini akan menyebabkan kontraksi otot jantung meningkat sehingga akan meningkatkan tekanan darah.
4.             Penghambat reseptor angiotensin (ARB)
          ARB bekerja dengan cara menghambat ikatan antara angiotensin II dengan reseptornya. Golongan obat ini menghambat secara langsung reseptor angiotensin II tipe 1 (AT1) yang terdapat di jaringan. AT1 memediasi efek angiotensin II yaitu vasokontriksi, pelepasan aldosteron, aktivasi simpatetik, pelepasan hormon antidiuretik dan kontriksi arteriol eferen glomerulus.
5.             Penghambat reseptor beta (ß blocker)
          Penghambat ß menurunkan tekanan darah melalui penurunan curah jantung akibat penurunan denyut jantung dan kontraktilitas. Mekanisme utama penghambat ß adalah menghambat reseptor ß1 pada otot jantung sehingga secara langsung akan menurunkan denyut jantung.
6.             Penghambat reseptor alfa (a blocker)
          Reseptor a terdiri dari a1 dan a2. Reseptor a1 terdapat di jantung sedangkan reseptor a2 terdapat di otak. Kedua reseptor ini memiliki peran yang berlawanan. Aktivasi dari reseptor a1 akan meningkatkan peningkatan senyawa katekolamin, yakni epinefrin, nor epinefrin dan dopamin yang akan menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah. Prazosin, terazosin, dan doxazosin adalah penghambat reseptor a1 selektif.
7.             Agonis a2 sentral
          Klonidin dan metildopa menurunkan tekanan darah terutama dengan merangsang reseptor a2 di presinap di otak. Perangsangan ini menurunkan aliran simpatetik dari pusat vasomotor di otak. Penurunan aktivitas aimpatetik, bersamaan dengan meningkatnya aktivitas parasimpatetik, dapat menurunkan denyut jantung, cardiac output, tahanan perifer total, aktifitas plasma renin, dan refleks baroreseptor.

Setiayaningsih (2007) menyatakan vaksin DNA dibuat dengan jalan menginsersikan gen pengkodean antigen yang bertanggung jawab menginduksi respon kekebalan dengan jumlah yang cukup untuk memproteksi, ke dalam vektor plasmid eukariot. Menurut Lorenzen dan Lapatra (2005) vaksin DNA memiliki beberapa keunggulan, diantaranya adalah mudah dikembangkan, mudah diproduksi, tidak menimbulkan infeksi, bersifat stabil sehingga memudahkan dalam penyimpanan, serta mampu mengaktivasi sistem kekebalan tubuh baik humoral maupun seluler.
Para peneliti telah merancang vaksin DNA yang menargetkan angiotensin II. Hormon ini meningkatkan tekanan darah dengan menyebabkan pembuluh darah mengerut. Penyempitan ini dapat meningkatkan tekanan darah dan memaksa jantung bekerja lebih keras.
Dr. Hironori Nakagami (2015) mengatakan potensi vaksin hipertensi ini menawarkan pengobatan inovatif yang bisa sangat efektif untuk mengendalikan kepatuhan medis, yang merupakan salah satu masalah utama dalam penanganan pasien hipertensi. Vaksin DNA yang diciptakan bekerja mirip dengan obat penghambat angiotensin-converting enzyme (ACE). Vaksin menargetkan angiotensin II, suatu hormon yang menyempitkan pembuluh darah dan mengakibatkan peningkatkan tekanan darah. Tekanan darah tinggi memaksa jantung untuk bekerja lebih keras.
Dalam studi Osaka, peneliti menggunakan suntikan tanpa jarum untuk menyuntik tikus yang mengalami hipertensi tiga kali dalam interval dua minggu. Vaksin itu mampu menurunkan tekanan darah tikus selama enam bulan dan mengurangi kerusakan jaringan ke jantung dan pembuluh darah, yang berhubungan dengan hipertensi. Para ilmuwan tidak menemukan tanda-tanda lain dari kerusakan organ, seperti di ginjal atau hati.
Harapan pemanfaatan vaksin antihipertensi adalah meningkatkan kepatuhan medis pasien dan mencapai tekanan darah yang ideal. Penelitian lebih lanjut pada platform vaksin DNA ini, termasuk meningkatkan jangka waktu penurunan tekanan darah, pada akhirnya dapat memberikan pilihan terapi baru untuk mengobati pasien hipertensi yang lebih efektif dan efisien.



DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. (2006).  Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Hipertensi. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Dipiro, T.J., Talbert,L.R., Yee, C.G., Matzke, R.G., Wells, G.B., dan Posey, M.L. (2008). Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach. New York: Mc Graw Hills Company. Hal. 141-142.
Guyton, A.C. (1993). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi ketujuh. Jakarta: EGC Kedokteran. Hal. 288-339.
Hiroshi Koriyama, Hironori Nakagami, Futoshi Nakagami, Mariana Kiomy Osako, Mariko Kyutoku, Munehisa Shimamura, Hitomi Kurinami, Tomohiro Katsuya, Hiromi Rakugi, and Ryuichi Morishita. Long-Term Reduction of High Blood Pressure by Angiotensin II DNA Vaccine in Spontaneously Hypertensive Rats. Hypertension, May 2015 DOI:10.1161 / HYPERTENSIONAHA. 114. 04534.
Lorenzen, N. and S.E. Lapatra. 2005. DNA vaccine for aquaculture fish. Rev. Sci. Tech. Int. Epiz. 24 (1):201-213.
Setiyaningsih, Surachmi (2007). Pengembangan Vaksin dari Isolat Lokal Virus Avian Influenza. KKP3PT.

SWASEMBADA ENERGI MELALUI PEMANFAATAN BIOGAS

Oleh : Gita Perdana

Energi saat ini memegang peranan yang penting dalam pengembangan ekonomi nasional. Hal ini merupakan suatu hal yang tidak dipersoalkan lagi, bahkan oleh Negara-Negara yang telah maju, maupun oleh Negara yang sedang berkembang bahwa penggunaan energi secara tepat dan berdaya guna tinggi merupakan syarat yang mutlak untuk meningkatkan kegiatan ekonomi. Indonesia merupakan Negara yang memiliki berbagai jenis sumber energi dalam jumlah yang cukup melimpah.
Menurut Wacik (2012), saat ini, bahan bakar fosil berkontribusi sebesar 94% terhadap bauran energi nasional, yang terdiri atas 47% berbasis minyak bumi, 21% gas bumi, dan 26% batubara. Dengan pertumbuhan ekonomi 6,3 –6,8 per tahun, kebutuhan energi diproyeksikan tumbuh sekitar 6% pertahun sampai dengan 2014.
Namun, jumlah sumber energi yang banyak tidak menjadi jaminan kebutuhan energi nasional tercukupi untuk jangka panjang. Dibuktikan oleh PT Pertamina (Persero) yang sudah menyiapkan diri jauh-jauh hari untuk mengimpor gas alam cair (LNG) pada 2018. Jumlahnya cukup besar mencapai 7,5 juta ton pertahun. Direktur Gas dan Energi Baru Terbarukan Pertamina Yenny Andayani mengatakan, impor dilakukan karena kebutuhan gas domestik yang sangat tinggi, terutama untuk listrik dan industri. Yenny mengungkapkan, pada 2018 tersebut, total kebutuhan impor LNG Pertamina mencapai 7,5 juta ton per tahun (MTPA).
Salah satu solusi untuk mengahadapi tantangan krisis gas dan mencapai tujuan swasembada energi adalah dengan memanfaatkan biogas. Menurut Abdullah (1998), biogas merupakan suatu jenis gas yang dapat dibakar, yang diproduksi melalui proses fermentasi anaerobik bahan organik seperti kotoran ternak dan manusia, biomassa, limbah pertanian atau campuran keduannya, di dalam suatu ruangan pencerna (digester). Biogas sering pula timbul jika bahan-bahan organik seperti kotoran hewan, kotoran manusia, atau sampah, direndam dalam air dan disimpan dalam tempat tertutup atau anerobik. Menurut Sonson Garsoni, setiap harinya, output shelter Instalasi Biodegester 7.000 Liter menghasilkan biogas dengan kemurnian > 80% metan sebanyak 37,8 m3 yang memiliki daya nyala dan kalori tinggi sebagai bahan kompor guna memasak setara 17,388 kg LPG. Instalasi ini juga bisa menghasilkan energi untuk menyalakan tiga unt genset 5.000 watt sebanyak 45,46 KWh (kilowatt haou). Tambah pula, material cairan yang diperoleh dari lumpur (sludge) keluaran instalasi bisa digunakan sebagai pupuk kompos cair. Kompos cair ini bermanfaat bagi pertumbuhan vegetasi dalam reklamasi lahan tambang. Selain itu, material lumpur noncair, berupa kompos padat, akan sangat berguna bagi media tumbuh jamur tiram. Jamur tiram ini tumbuh baik pada material dengan kandungan selulosa tinggi seperti halnya kompos asal eceng gondok. Data yang diperoleh dari kajian teknologi (2007) menyebutkan bahwa nilai kalor rendah (LVH) CH4 = 50,1 MJ/kg dengan densitas CH4 = 0,717 kg/m3. Kemampuan biogas sebagai sumber energi sangat bergantung dari jumlah gas metan. Setiap satu m3 metan setara dengan 10 kWh.
Keuntungan dari penggunaan teknologi biogas adalah sebagi berikut :
a.              Biogas yang dihasilkan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan bahan bakar minyak yang relatif cukup mahal.
b.             Teknologi ini dapat mengurangi pencemaran lingkungan, karena sampah organik dapat digunakan untuk yang bermanfaat, dengan demikian kebersihan lingkungan akan tetap terjaga.
c.              Selain menghasilkan energi produk buangan akhir dapat digunakan sebagai pupuk.
Komposisi
No
Komponen Biogas
Persentase (%)
1
Metan (CH4)
55 – 65
2
Karbon dioksida
36 – 45
3
Nitrogen
0 – 3
4
Hidrogen
0 – 1
5
Hidrogen sulfide
0 – 1
6
Oksigen
0 – 1
Sumber : Energy Resources Development Series no. 19, Escap, Bangkok dalam Kadir (1987)

Penggunaan biogas sebagai energi alternatif tidak menghasilkan polusi, disamping berguna menyehatkan lingkungan karena mencegah penumpukan limbah sebagai sumber penyakit, bakteri, dan polusi udara. Keunggulan biogas adalah karena konstruksi digester sederhana, hemat ruang, awet, mudah perawatan dan penggunaannya, dan dihasilkan lumpur kompos maupun pupuk cair.
Menurut Ginting (2007), bahwa prinsip pembuatan biogas adalah adanya dekomposisi bahan organik secara anaerobik (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan suatu gas yang sebagian besar berupa metana (yang memiliki sifat mudah terbakar) dan karbondioksida. Proses dekomposisi anaerobik dibantu oleh sejumlah mikroorganisme, terutama bakteri metan. Suhu yang baik untuk proses fermentasi adalah 30-55oC Pada suhu tersebut mikroorganisme dapat bekerja secara optimal merombak bahan-bahan organik.
Biogas sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor yang sangat berpengaruh diantaranya :
1.      Bahan baku
Bahan baku sebaiknya berbentuk butiran halus, sehingga pembentukan biogas dapat berlangsung dengan sempurna.
2.      Kadar air
Menurut Buren (1979), Produksi biogas akan berjalan lancar jika presentase kandungan padatan kurang lebih 7 %. Agar dapat beraktifitas normal, bakteri penghasil biogas memerlukan substrat dalam kadar air 90 % dan kadar air padatan 7-10 %.
3.      Derajat keasaman (pH)
Bila proses fermentasi berlangsung dalam keadaan normal dan anaerobik, maka pH akan secara otomatis berkisar antara 7.0-8.5. Menurut Fry (1974) dalam Nofal (2007) bila derajat keasaman lebih
kecil atau lebih besar dari kisaran nilai pH di atas, maka bahan tersebut akan mempunyai sifat toksik terhadap bakteri metanogen.
4.      Kondisi Anaerob
Menurut Yani dan Darwis (1990) bakteri metanogen termasuk mikroorganisme anaerobik yang sangat sensitif terhadap oksigen, diketahui pertumbuhannya akan terhambat dalam konsentrasi oksigen terlarut 0.01 mg/L.
5.      Temperatur
Digester dengan suhu mesofilik merupakan yang terbaik. Menurut Yani dan Darwis (1990), hal ini dikarenakan rentang suhu 21 – 40 0C lebih mudah dijaga, dengan kadar H2S yang dihasilkan rendah dan bakteri mesofilik lebih toleran terhadap fluktuasi suhu. Suhu optimum untuk mikroba untuk menghasilkan biogas antara 30-35oC.
6.      Pengadukan
Menurut Apandi (1980) pengadukan dibutuhkan untuk menjaga agar kerak jangan sampai menumpuk di permukaan sehingga menghambat pelepasan gas dari larutannya, menghomogenkan konsentrai substrat, melepaskan karbon dioksida agar pH normal, memperbesar kontak mikroba dalam substrat, dan mencegah terjadinya toksik lokal dalam digester.
7.      C/N Ratio
Menurut Abdullah (1998) agar pertumbuhan bakteri anaerob optimum, diperlukan ratio optimum C:N berkisar antara 20:1 sampai 30:1. Perbandingan C/N dari bahan organik sangat menentukan aktifitas mikroba dan produksi biogas.
Dengan sumber bahan baku yang mudah didapat dan kualitas serta kuantitas  penelitian-penelitian mengenai biogas yang mumpuni, maka biogas mampu menjadi solusi energi terbarukan dan langkah mencapai swasembada energi. Pengelolaan sumber energi secara tepat akan memberikan manfaat dan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat [].