Friday, April 15, 2016

GONDOLA INDONESIA

Gondola Indonesia 
    Gondola adalah perahu dayung tradisional asal Venesia, Italia. Gondola merupakan sarana utama di venesia selama berabad-abad dan masih memegang peranan penting dalam sistem transportasi publik di sana sampai saat ini. Gondola ini juga menjadi maskot Venesia dalam menawarkan pariwisata di daerah mereka.Gondola ini akan menyusuri daerah Venesia melalui kanal-kanal yang ada di sela-sela wilayah ini. Dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat, Gondola ini akan mengantar kita menikmati keindahan alam dan suasana pemukiman yang unik di Venesia. 
     Dan sensasi "Gondola" ini bisa kita rasakan tanpa harus ke Italia. Berandan, Sumatera Utara tepatnya di Pulau Perlis, kita dapat merasakan sensasi "Gondola" ini. Kita akan diseberangkan dari Pulau Sumatera menuju Pulau Perlis Berandan dan tanpa harus merogoh kocek dalam. Sama dengan "Gondola Venezia", Gondola ini juga menjadi transportasi penting untuk masyarakat sekitar sampai saat ini. Sudah berpuluh-puluh tahun "Gondola" ini membantu masyarakat yang akan datang atau pergi ke wilayah Perlis Berandan. Masyarakat Perlis Berandan memang bergantung pada daratan Sumatera terutama Berandan karena akses fasilitas di Pulau tersebut yang terbatas. Contohnya seperti akses kesehatan dan ekonomi (pasar) yang hanya ada di Berandan daratan. Namun, walaupun akses yang belum lengkap, pemerintah setempat sedang membangun fasilitas. Sehingga kedepan, peningkatan pendapatan warga lokal dapat tumbuh dari sektor pariwisata. Banyak potensi wilayah pariwisat yang dapat dikembangkan, seperti hutan bakau yang dapat dijadikan ekowisata dan perkampungan nelayan  dipinggiran pulau tersebut yang bisa dijadikan objek eduwisata. Kemudian komoditi terasi yang bisa dikembangkan pasarnya. 

Penasaran? 
Masih banyak sensasi luar negeri ada di dalam negeri.

Wednesday, April 13, 2016

GAGA DIPERSIMPANGAN (Part 2)

         


              Selesai melaksanakan sholat ashar, kami bergegas masuk ke dalam Aula mesjid, ketika aku masuk, baru kali ini aku merasakan aula ini penuh sesak. Bahkan pendingin yang ada di aula ini tidak mampu lagi mendinginkan ruangan yang penuh dengan lautan manusia ini. Ketika aku dan Fojin mulai mencari tempat duduk, semua mata tertuju pada kami berdua sambil tersenyum. Aku membalas senyum kosong dan mataku tak henti-hentinya untuk mencari tempat kosong. Sekilas ku memandang ke arah depan, kulihat ada tangan melambai-lambai. Setelah kuperhatikan itu adalah tangan Bang Arai. Bang Arai adalah abang kelas ku dikampus, beliau adalah pimpinan organisasi tingkat fakultas di kampusku. Beliau sekarang sedang fokus pada pergantian pengurus sembari menyelesaikan peneletian beliau. Bang Arai adalah mahasiswa yang unik, karena beliau agak sulit berkomunikasi karena menurutnya semua kata atau kalimat yang dikeluarkan oleh pimpinan harus dipikir matang-matang. Beliau sering menghentikan pembicaraan dipertengahan hanya untuk mencari kalimat atau kata yang akan digunakannya. Sungguh orang yang sangat berhati-hati. Langsung saja aku mengahmpiri beliau, ternyata beliau telah menyiapkan tempat duduk untuk kami berdua. Lalu kami duduk, dan Bang Arai bertanya,”Lama sekali kalian kesini, ada kuliah ya?”, lalu kami berdua serentak berdua menjawab, “Iya bang”. Kemudian bang Arai tersenyum melihat reaksi kami tadi.
                Dilanjutkanlah acara diskusi sore itu, setelah dibuka oleh muderator, permasalahannya adalah organisasi kampus sedang mencari sosok pemimpin-pemimpin yang layak untuk melanjutkan organisasi kampus. Lalu munculah beberapa pandangan termasuk par senior kami yang terus beradu argumen dan pendapat mengenai hal tersebut. Aku hanya menyimak sambil mataku agak tertutup karena aku merasa mengantuk setelah mengikuti perkuliahan mulai dari pagi tanpa henti. Hingga pada akhir diskusi dipilihlah beberapa nama yang akan ditunjuk sebagai pimpinan organisasi di kampus. Ada 3 organisasi yang akan melakukan perganitian kepengurusan, yaitu Organisasi Keluarga Mahasiswa Tingkat Fakultas, Jurusan, dan Konsentrasi. Dalam hati, aku terus memberontak untuk tidak mengikuti diskusi ini lagi, aku sangat ingin pulang dan istirahat lalu mengerjakan tugas-tugas kuliah serta beberapa berkas beasiswa yang harus ku lengkapi. Ditambah lagi beberapa karya tulis ilmiah yang sedang berjalan aku kerjakan, semua itu membutuhkan waktu, energi, dan ide yang tidak sedikit. Sementara orang-orang diruangan berbicara, aku terus membayangkan tugas-tugasku. Tubuhku sudah gelisah, namun tempat dudukku seperti memiliki medan magnet yang menarik tubuhku terus untuk tetap duduk dibangku tersebut.
                Hari semakin sore, diskusi masih berjalan, aku terus memperhatikan sampai pada agenda penentuan nama-nama yang akan diangkat sebagai pimpinan. Ketika forum ditanya siapa yang bersedia untuk menjadi pemimpinan organisasi selanjutnya, seluruh isi ruangan senyap. Tak ada suara sedikitpun yang keluar, sangat berbeda ketika diskusi diawal sebelumnya. Ditunggu oleh muderator beberapa menit. Setelah beberapa menit ditunggu dan tidak ada respon, maka muderator mempersilahkan para hadirin diskusi untuk menyampaikan rekomendasi nama-nama yang akan dicalonkan, setelah dicalonkan maka disepakati oleh forum siapa-siapa saja yang akan menjadi pimpinan tetap kedepannya. Tak lama kemudian, seorang wanita mengangkat tangannya dari barisan wanita yang barisannya lebih banyak dari pada barisan laki-laki. Beliau adalah Kak Wadah, beliau adalah kakak kelas yang sulit ditebak menurutku. Namun, walaupun sulit ditebak, beliau sudah berkontribusi banyak terhadap aktivitas kemahasiswaan. Beliau terkenal sebagai mahasiswi yang aktif dan memilki wawasan ilmu yang luas. Beliau juga memiliki jaringan nasional. Beliau mulai berbicara mengenai pendapatnya dan rekomendasinya dengan logat minang. Karena kak Wadah adalah seorang wanita dari minang namun bermarga batak.                 Beliau mencalonkan Lido sebagai pimpinan organisasi Fakultas, kemudian fojin sebagai pimpinan organisasi jurusan dan Ahmad sebagai pimpinan organisasi departemen. Seluruh khalayak forum terdiam dan kemudian muderator menanyakan kembali siapa yang memiliki rekomendasi untuk pimpinan organisasi tersebut.
Selanjutnya, mengangkat tangan kembali dari barisan mahasiswi. Dia adalah Alda, mahasiswi yang satu angkatan denganku. Dia berasal dari jakarta, ada kesan aneh pertama kali bertemu dengannya. Teringat dalam memoriku, Saat itu ketika orientasi kampus yang diadakan di fakultasku. Dia begitu aktif dan sering berbicara di depan umum. Namun, di penghujung agenda orientasi, Alda dipersilahkan oleh kakak dan abang panitia untuk mengungkapkan kesan dan pesannya selama mengikuti orientasi selama 3 hari. Yang menarik dari pernyataannya adalah alda tidak menyangka akan masuk ke universitas di medan ini. Alda pernah mendengar kota medan tetapi alda mengira kota medan adalah kota yang tertinggal dan jauh dari kata modern, sontak seluruh ruangan menyoraki alda karena mayoritas mahasiswa baru berasal dari medan dan sekitarnya, namun dengan tenangnya didepan orang banyak, dia hanya tersenyum dan memohon maaf ternyata medan tidak seperti apa yang dipikirkannya. Dan setelah menyampaikan kesan dan pesan, seluruh ruangan bertepuk tangan seolah baru mendengar pidato kebangsaan yang disampaikan oleh tokoh nasional. Sungguh memori yang lucu menurutku. Kembali pada pendapat dan rekomendasi pada diskusi ini, dia mencalonkan


Bersambung...

Sunday, April 10, 2016

GAGA DIPERSIMPANGAN (Part 1)


                Celanaku bergetar, fokusku langsung buyar ketika aku sedang di dalam kelas. Hari ini jadwal kuliahku memang padat. Mulai dari pagi sampai sore, aku terus masuk kelas. Ini terjadi karena belakangan ini kami memang jarang masuk kelas karena jadwal pengajar/dosen kami yang bentrok. Karena 2  minggu lagi kami akan ujian, maka minggu ini adalah minggu padat kami untuk mengganti kuliah. Ku buka handphoneku yang ada di dalam saku celanaku. Ku buka layar utama, dan tertulis bahwa ada 5 pesan masuk dan 3 pesan dari online chatku. Ku tutup kembali handphoneku dan kembali aku fokus pada kuliahku. 30 menit kemudian, selesai sudah materi kuliah kami untuk hari ini, dan kami berhamburan keluar ruang kuliah dan bergegas untuk pulang. Sementara teman-teman yang lain pulang, aku berjalan menuju mesjid untuk melaksanakan sholat Ashar. Sambil berjalan, ku buka kembali handphoneku dan kubaca pesan-pesan masuk tadi.
                Aku adalah salah satu mahasiswa disalah satu Universitas di Kota Medan. Aku mengambil jurusan dibidang kesehatan. Namaku Gaga Pratama, namun teman-teman kampusku lebih sering memanggilku “Kang Gaga”. Aku bisa menebak mengapa teman-temanku memanggil namaku seperti itu. Pertama, Aku dibesarkan dari keluarga jawa yang lahir di sumatera. Daerah kelahiranku kebanyakan orang suku jawa walaupun orang-orang asli diwilayah kami adalah orang yang bersuku batak dan melayu. Hanya berbicaraku memang agak bercampur. Aku sering menggunakan istilah jawa tetapi irama berbicaraku agak kebatak-batakan dan melayu. Dan banyak pemuda diwilayahku juga seperti itu. Jika dikampus, aku sering terbawa model komunikasi seperti dikampung. Kedua, aku dan teman-teman sekelas dikuliah pernah mencetak jaket angkatan. Kami mencetak jaket untuk kami sendiri dan setiap jaket diberi nama sesuai pemiliknya. Aku meminta di jaketku di tulis nama “Akang Gaga” dan teman-temanku tertawa melihat nama pada jaketku. Di kelas, aku dekat dengan teman-teman kuliahku, namun ada 5 orang yang menurutku sering bersama denganku dalam mejalani kehidupan kampus ini.  Mereka adalah Lido, Rifa, Fojin, Ofi, dan Gartam.
                Dari 5 pesan yang masuk di handponeku, semuanya adalah pesan masuk dari para seniorku dikampus. Ini sangat jarang terjadi. Biasanya, sms yang masuk dari orangtuaku yang menanyakan kabar, teman yang menanyakan tugas kuliah, atau operator kartu yang menginformasikan tentang promo atau tenggat pulsa yang sudah mau habis. Langsung aku buka sms-sms itu. Ketika ku buka semua inti pesannya sama, yaitu meminta aku untuk ikut pada rapat yang akan dilaksanakan di dekat mesjid. Kebetulan di dekat mesjid ada ruang besar yang disediakan untuk kegiatan mahasiswa dan juga digunakan untuk menampung jamaah yang berlebih.
Terbesit dipikiranku tentang isu-isu yang beredar di kampus bahwa sekarang sedang masa pergantian pengurus organisasi terutama organisasi yang ada di fakultasku. Aku berpikir apakah mungkin ini adalah rapat tentang menaggapi hal ini? Apa pantas aku mengikuti rapat yang penuh dengan kebijakan penting ini? Atau jangan-jangan aku menjadi target man untuk meneruskan kepengurusan? Aku terus berpikir dan berharap agar aku tidak menjadi ketua pada salah satu organisasi kampus karena aku tidak sanggup. Aku sudah dapat membayangkan bagaimana repot dan sibuknya seorang pimpinan organisasi dalam menjalankan organisasi. Belum lagi hubungan yang harus dijaga antara hubungan horizontal yaitu bersama teman-teman kampus dan hubungan vertikal yaitu bersama pihak birokrasi kampus atau pihak eksternal kampus.
Hatiku terus bergemuruh seakan-akan memberikan sinyal bahwa akan ada sesuatu terjadi. Badanku berkeringat dan bajuku basah karena keringatku sendiri padahal hari mendung dan angin dingin mengalir disela-sela tubuhku selama perjalanan menuju mesjid. Aku melihat sekeliling dan sepintas, aku melihat teman sekelasku, Fojin. Dia adalah mahasiswa yang murah senyum, walaupun beberapa kali tertidur dikelas, dia memilki nilai yang cemerlang di kelas, bahkan belakangan banyak mahasiswi-mahasiswi yang dekat dengannya karena wataknya yang mudah mencair. Aku berpikir bahwa dia lebih pantas untuk dijadikan pimpinan organisasi karena karakter yang dia miliki menurutku sudah pantas untuk itu. Apabila pun ada yang menjadi lawannya dalam pemilihan nanti, maka lawannya pasti akan kalah telak. Aku mulai berjalan mendekatinya dan mengucapkan salam sembari meneruskan perjalanan bersama menuju mesjid. Ketika kami sudah sampai dipintu mesjid, tak kusangka ia bertanya “Ga, Kamu dapat sms dari bang Jen?” lalu aku menjawab “ya, kenapa rupanya?”, lalu dia senyum dan mengatakan” selesai sholat, kita bareng ke Aula mesjid ya, aku juga dapat sms dari bang Jen”.


Bersambung....

Sunday, January 10, 2016

TEKNOLOGI DETEKSI DINI MALARIA DI DAERAH TERPENCIL

Indonesia Bebas Malaria

Oleh : Gita Perdana

Tiga beban utama (triple burden) kesehatan nasional adalah adanya pergeseran demografi (meningkatnya jumlah penduduk lansia), meningkatnya penyakit tidak menular (stroke, jantung, diabetes, kanker, dan lain-lain), dan masih tingginya penyakit menular (infeksi). Indonesia yang merupakan negara tropis, malaria tetap menjadi salah satu penyakit menular utama khususnya di beberapa wilayah yang dinyatakan masih endemis terutama di luar Pulau Jawa. Hal ini disebabkan karena malaria masih merupakan penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian pada kelompok berrisiko tinggi yaitu bayi, balita, dan ibu hamil dan secara langsung dapat menurunkan produktivitas kerja. Departemen Kesehatan Republik Indonesia menyatakan, pada tahun 2006 terdapat sekitar 2 juta kasus malaria klinis, sedangkan tahun 2007 menjadi 1,75 juta kasus.  Jumlah penderita positif malaria (hasil pemeriksaan mikroskop positif terdapat kuman malaria) tahun 2006 sekitar 350.000 kasus, dan pada tahun 2007 sekitar 311.000 kasus.
Laporan WHO pada tahun 2005 menyebutkan, di seluruh dunia jumlah kasus baru malaria berkisar 300-500 juta orang dengan kematian 2,7 juta orang/tahun, sebagaian besar anak-anak di bawah lima tahun yang merupakan kelompok paling rentan terhadap penyakit dan kematian akibat malaria dengan jumlah negara endemis malaria pada tahun 2004 sebanyak 107 negara.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2013 tentang Kriteria Fasilitas Pelayanan Kesehatan Terpencil, Sangat Terpencil, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang Tidak Diminati dijelaskan bahwa, Daerah Terpencil adalah daerah yang sulit dijangkau karena berbagai sebab seperti keadaan geografi (kepulauan, pegunungan, daratan, hutan dan rawa), transportasi, sosial, dan ekonomi.
Harijanto (2010) menuturkan, penyakit  malaria masih  endemis di beberapa wilayah. Umumnya di daerah malaria yaitu daerah-daerah terpencil yang sebagian penderitanya adalah dari golongan ekonomi lemah. Dari 200 lebih kabupaten /kota  yang  ada di  Indonesia, sebanyak 167 kabupaten / kota merupakan wilayah endemis  malaria. Daerah  dengan kasus  malaria tinggi  dilaporkan terbanyak  di kawasan  Indonesia,  antara  lain di Provinsi Papua, Nusa Tenggara  Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara dan Sulawesi Tenggara. Dikawasan lainnya yang dilaporkan angka malaria masih cukup tinggi adalah di propinsi Kalimantan  Barat, Bangka Belitung, Sumatera  Selatan, Bengkulu  dan  Riau.
Menurut Prabowo (2004), malaria adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles dengan gambaran penyakit berupa demam yang sering periodik, anemia, pembesaran limpa dan berbagai kumpulan gejala oleh karena pengaruhnya pada beberapa organ misalnya otak, hati dan ginjal.
Penularan malaria terjadi karena adanya interaksi antara agent (parasit Plasmodium spp),  host defenitive (nyamuk Anopheles spp) dan host intermediate (manusia) . Karena itu, penularan malaria dipengaruhi oleh keberadaan dan fluktuasi populasi vektor (penular yaitu nyamuk Anopheles spp), yang salah satunya dipengaruhi oleh intensitas curah hujan serta sumber parasit Plasmodium spp, atau penderita di samping adanya host yang rentan. Selain penularan secara alamiah, malaria juga bisa ditularkan melalui transfusi darah atau transplasenta dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya.
Pembahasan dan diskusi yang dihadiri oleh Prof. dr. Emiliana Tjitra, M.Sc. Ph.D dari Badan Litbang Kemenkes, Dr. dr. Loeki Enggar Fitri, Sp.Par.K. dari Universitas Brawijaya dan Dr. Aty Widyawaruyanti, Msi.,Apt dari ITD Universitas Airlangga dan Dr. Agung Eru Wibowo, MSi., Apt dari Pusat Teknologi Farmasi dan Medika-BPPT di tahun 2013 terkait penatalaksanaan pengobatan malaria dikaitkan dengan meningkatnya efikasi klinis dan resistensi, potensi pengembangan diagnostik plasmodium, pengembangan fitofarmaka dan beberapa hasil penelitian terkait pathogenesis, resistensi, jalur metabolisme dan potensi target aksi obat baru serta upaya pengembangan vaksin telah dilaksanakan secara intensif. Aspek teknis tekonologi terkait jenis dan staging plasmodium yang banyak serta kompleksitas genetik plasmodium merupakan kendala utama dalam pengembangan vaksin.
Deteksi dini adalah usaha untuk mendeteksi penyakit atau kelainan, dengan menggunakan tes, pemeriksaan, atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara cepat untuk membedakan orang-orang yang kelihatannya sehat, benar-benar sehat dengan tampak sehat tetapi sesungguhnya menderita kelainan. Tujuan dari deteksi dini ini untuk menemukan secara dini, yaitu malaria yang masih dapat disembuhkan, untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas malaria.
Dari beberapa jenis pemeriksaan laboratorium, yang dianggap paling baik sehingga dijadikan sebagai goal standard  pemeriksaan laboratorium malaria adalah pemeriksaan secara mikroskopis karena pemeriksaan berdasarkan mikroskopis mempunyai kelebihan yaitu bisa menentukan dengan tepat spesies serta stadium parasit Plasmodum spp termasuk kepadatannya.  Tetapi kadangkala hasil pemeriksaan mikroskopis tidak dapat dipercaya penuh sebagai dasar penegakan diagnosis terutama pada penderita yang telah diberi pengobatan atau profilaksis, karena obat anti malaria secara parsial dapat menyebabkan berkurangnya jumlah parasit sehingga berada di bawah ambang pemeriksaan mikroskop. Ini mengakibatkan pada pewarnaan sediaan darah hanya ditemukan sedikit parasit yang menggambarkan parasitemia yang rendah padahal pasen sedang menderita malaria berat.
Berikut adalah teknologi deteksi dini malaria yang dapat dimanfaatkan di daerah terpencil
1.      Memanfaatkan mikroskop cahaya dan cairan acridine orange
Peneliti dari Institut Penyakit Tropis, Universitas Airlangga, Indah S. Tantular, mengembangkan teknik deteksi malaria yang cepat, mudah, dan murah. Teknik deteksi ini didasarkan pada pengamatan ada tidaknya parasit malaria dalam darah manusia. Untuk mendukung teknik deteksi, mikroskop cahaya binokuler sedikit dimodifikasi. Sumber cahaya diganti dengan lampu halogen. Sementara itu, ditambahkan filter khusus untuk menyeleksi panjang gelombang dari lampu halogen sesuai yang diinginkan.
Untuk mendeteksi, cukup mengambil sampel darah dan membuat hapusan tipis pada kaca preparat mikroskop. lalu, tambahkan cairan acridine orange pada sampel, kemudian diamati. Parasit akan tampak berpendar. Bila dalam pengamatan mikroskop terdapat obyek berpendar dengan bentuk serupa cincin atau pisang, maka besar kemungkinan orang yang diambil sampel darahnya menderita malaria.
Teknik yang dikembangkan lebih murah dan mudah ditempatkan di wilayah endemik malaria. Biasanya harus pakai mikroskop fluoresens yang mahal dan besar serta besar potensi kerusakan alat deteksi, sehingga sulit dibawa ke daerah endemik.
2.      Tes Napas
Stephen Trowell dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) berhasil mengidentifikasi bio-marker dari penyakit malaria. Trowell menuturkan telah menemukan ada empat  unsur kimiawi saling terikat dan mengandung sulphur-atom, yang dalam jumlah banyak tentunya akan meninggalkan bau. Nah, penyakit malaria meningkatkan kadar unsur ini di dalam tubuh, sehingga sekecil apapun kuman yang masuk, unsur ini pasti akan melonjak tajam dan bisa terdeteksi karena memiliki bau. 
Kemudia Trowell menjelaskan bahwa apa yang sedang dikerjakannya ini dapat menjadi alternatif baru bagi deteksi penyakit malaria. Saat ini, deteksi malaria hanya dapat dilakukan dengan tes darah dan menurut Dr Trowell, tes darah sangat tidak praktis.
Tes darah membutuhkan laboratorium lengkap, yang akan sulit dimiliki oleh daerah-daerah terpencil tempat malaria masih menjadi endemis. Dengan tes napas, deteksi pun akan menjadi lebih praktis dan jangkauannya juga semakin luas.
3.      Malaria Observation Endemic Surveillance (MOSES)
MOSES adalah aplikasi yang menggabungkan teknologi client runtime dengan aplikasi di PDA untuk melakukan diagnosis dan analisis terhadap pasien yang didug terkena malaria secara cepat. Solusi ini diharapkan dapat membantu masyarakat yang berada di daerah terpencil agar dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara cepat dan tepat.
Tim”Big Bang” ITB menciptakan sebuah virtual character. Petugas kesehatan dilengkapi dengan alat yang bernama PDAscope yang terdiri dari sebuah modiffikasi mikroskop plus PDA. PDAscope ini menyerupai sebuah mikroskop asli yang dibuat dengan bahan-ahan yang murah. Hal tersebut merupakan pertimbangan dari “Big Bang” atas faktor ekonomis pada implementasi solusi ini. PDAscope ini nantinya akan dapat menjadi alat pelengkap kamera yang berada pada PDA yang dapat meneropong sampel darah yang diambil dari yubuh pasien. Setelah PDA tersebut merekam hasil gambar tersebut, petugas kesehatan dapat mengirimkan gambar sampel darah tersebut ke pusat kesehatan yang berada pada lokasi yang jauh dari tempat tersebut.
Usaha preventif dan deteksi malaria penting untuk melindungi masyarakat dari penyakit malaria. Upaya  yang dapat masyarakat lakukan adalah meminimalisir resiko malaria. Usaha preventif dapat dilakukan mulai dari diri sendiri, keluarga, dan masyrakat sekitar. Kesadaran masyarakat untuk peduli malaria juga harus ditingkatkan melalui penyuluhan-penyuluhan efektif yang dapat dilakukan oleh pihak akademisi maupun tenaga medis. Perkembangan teknologi deteksi dini malaria terus berjalan demi mendapatkan keefektifan dan kemudahan bagi penderita malaria. Terutama masyarakat terpencil yang sangat minim mendapatkan fasilitas kesehatan. Semua upaya pemberantasan malaria bertujuan agar Indonesia bebas malaria [ ].


PEMERIKSAAN KESEHATAN SEBELUM MENIKAH

Oleh : Gita Perdana

Kesehatan Pra Nikah

Semboyan “Lebih baik mencegah daripada mengobati” dapat membantu menghadapi masalah kesehatan yang mungkin akan menimpa kelak. Mencari tahu tes kesehatan apa saja yang perlu dilakukan, tentu tidak hanya menghemat biaya pengobatan yang harus dikeluarkan nantinya, tetapi juga membuat kita terhindar dari penyakit.
Menurut Meta Aprilia (2009), medical check up atau pemeriksaan kesehatan merupakan serangkaian pemeriksaan, mulai dari wawancara (amnesia terhadap pasien),  pemeriksaan fisik , dan atau pemeriksaan penunjang. Dan bagian medical check up ini sangat berkaitan erat dengan unit penunjang medis seperti bagian radiologi, bagian laboratorium, bagian rawat inap, dan lain-lain.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 1 menyatakan bahwa, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Manfaat melakukan tes kesehatan sebelum menikah adalah mencegah penularan penyakit antar pasangan, mendeteksi sifat pembawa kelainan bawaan pada kedua pasangan, dan menentukan sejauh mana kebugaran masing-masing pasangan.
Menurut dr. Frizar Irmansyah (2013), idealnya pemeriksaan dilakukan enam bulan sebelum menikah. Tujuannya supaya apabila terdapat kelainan seperti hepatitis, TBC, infeksi, bisa diberikan waktu kepada pasangan untuk proses penyembuhan. Bagi calon pengantin perempuan, lakukanlah pemeriksaan ini saat tidak sedang menstruasi. Hal ini dilakukan dengan menunggu tiga sampai lima hari sesudah menstruasi untuk menghindari adanya kontaminasi darah di urine.
Tes kesehatan sebelum pernikahan bisa mendeteksi kemungkinan berbagai penyakit menular, menahun, genetik yang diturunkan. Menurut Merry Wahyuningsi (2013), beberapa risiko penyakit yang bisa menular pada pasangan atau menular pada keturunan adalah sebagai berikut
1. Penyakit seperti diabetes melitus, kelainan jantung dan hipertensi, kelainan darah cenderung diturunkan. Calon ibu yang mempunyai kadar gula tinggi, bila tidak dikontrol dapat berisiko cacat pada janinnya atau mengalami komplikasi kehamilan seperti janin besar, gangguan pertumbuhan pada janin, proses kelahiran yang sulit atau janin meninggal di dalam kandungan. Tapi bila kondisi ini diketahui sejak awal, dapat dilakukan perubahan gaya hidup dan bila perlu dilakukan pengobatan agar kadar gula darah terkendali dan komplikasi dapat dicegah atau dihindari.
2. Penyakit infeksi seperti hepatitis B juga bisa ditularkan ibu kepada janinnya atau dari sang suami kepada istrinya. Sebagian besar PMS termasuk sifilis, herpes, gonorrhea juga bisa mengakibatkan terjadinya kecacatan pada janin.
3. Ketidakcocokkan rhesus juga sangat mempengaruhi janin, seperti janin mengalami anemia, jaundice (kuning) dan komplikasi lainnya. Ketidakcocokkan rhesus ini sering terjadi pada pasangan berbeda ras.
4. TORCH (Toksoplasma, Rubela, Cytomegalovirus dan Herpes simplex) adalah sekelompok infeksi yang dapat ditularkan dari perempuan hamil kepada bayinya. Perempuan yang terinfeksi memiliki risiko tinggi menularkan ke janin yang bisa berakibat fatal.
5. Bila kedua pasangan membawa sifat thalassemia (thalassemia minor), maka besar kemungkinan keturunannya thalassemia mayor.
6.  Kelainan jantung bawaan atau congenital heart disease merupakan suatu kelainan pembentukan struktur jantung atau pembuluh besar yang keluar dari jantung. Congenital artinya ‘lahir dengan’ atau ‘hadir pada kelahiran’ dalam arti dibawa sejak lahir.
7.  Hipertensi atau tekanan darah tinggi, kadang-kadang disebut juga dengan hipertensi arteri, adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri meningkat. Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah.
8.  AIDS, adalah sekumpulan gejala dan infeksi (sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya.
9.  Kelainan genetik dan kromosom, termasuk buta warna. Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu yang disebabkan oleh faktor genetis. Buta warna merupakan kelainan genetika yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya, kelainan ini sering juga disebut sex linked, karena kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta warna.
Banyak konflik dalam pernikahan yang mungkin berujung pada perceraian diakibatkan oleh masalah kesehatan, kesuburan dan keturunan, yang tidak dipersiapkan sebelumnya. Setiap pasangan yang akan menikah butuh keterbukaan tentang kesehatan. Periksaan dini sebelum menikah dapat menjadi pembuktian cinta pada pasangan dan saling terbuka masalah status kesehatan masing-masing [].