Saturday, January 9, 2016

YOGURT JANDA : YOGURT DENGAN EKSTRAK DAUN JATI BELANDA SEBAGAI PELANGSING

        Kegemukan atau obesitas terjadi antara lain karena konsumsi makanan yang melebihi kebutuhan Angka Kecukupan Gizi (AKG) per hari. Bila kelebihan ini terjadi dalam jangka waktu lama, dan tidak diimbangi dengan aktivitas yang cukup untuk membakar kelebihan energi, maka kelebihan energi tersebut akan diubah menjadi lemak dan ditimbun di dalam sel lemak di bawah kulit. Jika penimbunan semakin banyak maka akan terjadi perubah ananatomis. Penderita obesitas biasanya akan mengalami masalah kesehatan seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner dan hipertensi, kanker, penyakit ginjal, dan penyakit hati yang dapat menyebabkan kematian (Purnomo, 2008). 
      Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menangani obesitas antara lain: olahraga, diet, terapi psikologis, dan operasi. Ada beberapa opsi untuk mengatasi obesitas, yaitu: kurangi makanan yang mengandung minyak dan lemak, perbanyak olahraga, kurangi porsi makan, kurangi mengemil makan (Wijayanti, 2013).  
      Langkah pengaturan diet selalu dimulai dahulu dan tindakan tersebut mungkin dapat menghindari perlunya penggunaan obat. Obat sintetik yang dapat digunakan sebagai antihiperlipidemia yaitu Lovastatin, simvastatin, pravastatin, atrovastatin, fluvastatin dan cerivastatin (Katzung, 2007).Sementara itu masyarakat Indonesia secara turun temurun menggunakan daun Jati Belanda (Guazuma ulmifoliaLamk) sebagai obat penurun kolesterol.  Pramono et al melaporkan bahwa lender daun jati belanda per oral dapat menghambat perkembangan berat badan tikus dibandingkan kontrol (air suling).
     Monika dan Farida (2000) juga melaporkan bahwa ekstrak daun jati belanda per oral dapat menurunkan konsentrasi kolesterol total darah kelinci. Joshita et al pun melaporkan bahwa seduhan daun jati belanda berpengaruh meningkatkan aktivitas enzim lipase secara in vitro.(Purnomo, 2008). 
      Mann danSpoerry (1974) menguji penurunan kadar kolesterol darah pada orang yang menerima asupan susu fermentasi dengan Lactobacillus dalam jumlah besar (8.33 L/orang/hari). Hasilnya kadar kolesterol darah rendah walaupun mereka mengkonsumsi daging dalam jumlah yang besar. Konsumsi yogurt dalam jumlah besar ditemukan bertanggung jawab terhadap penurunan kolesterol darah (Chandan, 2006).
      Yogurt Janda memiliki peluang potensi menurunkan berat badan (pelangsing) melalui mekanisme penghambatan penyerapan di usus melalui pengendapan protein.Produk Yogurt Janda berpeluang memilki stabilitas yang baik dan disukai masyarakat terutama masyarakat yang obesitas, serta berpeluang menjadi sediaan nutraseutikal yang memiliki efek anti hipertensi, meningkatkan kekebalan  tubuh, anti kanker, mencegah penyakit komplikasi akibat diabetes dan lain-lain []. 

PEMANFAATAN EKSTRAK ETANOL DAN INFUSA BAYAM DURI SEBAGAI ANTIMALARIA DALAM UPAYA MENUJU INDONESIA BEBAS MALARIA

Oleh : Gita Perdana


Malaria adalah penyakit yang mengancam keselamatan jiwa yang disebabkan oleh parasit yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi parasit Plasmodium. Setiap 30 detik seorang anak meninggal akibat malaria. Terdapat 247 juta kasus malaria tahun 2006, dan setidaknya 1 juta meninggal (WHO, 2013).
Indonesia salah satu negara yang endemis malaria. Sampai tahun 2009, sekitar 80% kabupaten/Kota masih termasuk katagori endemis malaria dan sekitar 45% penduduk bertempat tinggal di daerah yang berisiko tertular malaria. Sementara jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 2009 sebanyak 1.143.024 orang. Berdasarkan Pemprovsu (2010), Sumatera Utara merupakan daerah yang endemis malaria di antaranya Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Labuhan Batu, Serdang Bedagai, Asahan, Samosir, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Nias, Nias Selatan, Batu Bara, Padang Lawas, Padang Lawas Utara dan Kabupaten Labuhan Batu Utara. Salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang endemis malaria seperti Kabupaten Nias Selatan merupakan daerah tertinggi kasus malaria di Sumut dengan 1.163 kasus (3,73 persen), Madina dengan 1.225 kasus (3,12 persen), Batu Bara dengan 785 kasus (2,07 persen), Labuhan Batu Utara (Labura) dengan 658 kasus (1,97 persen).
Menurut Sutisna (2006), ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan jumlah penderita malaria yaitu perubahan iklim, gagalnya pemberantasan vektor malaria, resistensi terhadap obat malaria bahkan juga sudah terjadi pada Klorokuin yang menjadi andalan sebagai antimalaria pada saat ini.
Klorokuin menjadi obat antimalaria pilihan utama untuk pengobatan pasien malaria selama 50 tahun ini, tetapi berkembangnya P. falciparum yang resisten terhadap obat ini telah menjadi masalah yang sangat besar. Depkes RI (2004) melaporkan kasus P. Falciparum resisten klorokuin di Indonesia telah ditemukan di 12 propinsi pada 14 kabupaten yaitu Propinsi Nangro Aceh Darusalam, Lampung, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, Maluku, Maluku Utara dan DKI Jakarta. Kemudian resistensi ini terus menyebar dan selanjutnya kasus-kasus malaria yang resisten klorokuin sudah ditemukan di seluruh propinsi Indonesia.
Mustofa (2003) menyatakan bahwa timbulnya resistensi terhadap obat antimalaria seperti klorokuin dan lainnya ikut mendorong gerakan kembali ke alam untuk mencari obat lain dengan mekanisme kerja yang berlainan serta mengembangkan antigen dan vaksin antimalaria. Upaya untuk menemukan antimalaria baru dari tanaman obat telah dilakukan secara sangat intensif pada beberapa dasawarsa terakhir ini oleh beberapa peneliti dunia.
Salah satu pemecahan masalah resistensi obat malaria adalah mencari alternatif pengobatan yang berasal dari tanaman herbal yang banyak tumbuh di Indonesia. Semenjak ditemukannya Artemesinin sebagai pengobatan malaria dari herbal Artemisiaannua, hal ini menjadi perhatian yang besar diseluruh dunia, juga di Indonesia. Banyak tumbuhan herbal sebagai anti malaria telah diteliti, seperti sambiloto, ceplukan, daun sabrang, tetapi belum banyak yang meneliti tentang bayam duri.
Bayam duri (Amaranthus spinosus) merupakan tanaman yang tersebar luas didaerah tropis dan bersuhu hangat di Asia, mulai dari Jepang, Indonesia, hingga India (Mishra, 2012). Tanaman ini merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang digunakan untuk berbagai macam keperluan antara lain sebagai antipiretik, diuretik, antiinflamasi, antibakterial, dan antimalaria (Mishra, 2012 dan Vardana, 2012). Tumbuhan ini banyak tumbuh liar di kebun-kebun, tepi jalan, tanah kosong dari dataran rendah sampai dengan ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut. Bayam duri bisa tumbuh di seluruh wilayah Indonesia.
Menurut penelitian Azeredo (2009), secara kimiawi bayam duri mengandung sejumlah konstituen aktif mencakup alkaloid, flavonoid, glikosida, asam fenolat, steroid, asam amino, terpenoid, lipid, sapoin, betalain, B sitosterol, stigmasterol, asam linoleat,amaranthosida, amarisin, dan lain lain. Kelompok alkaloid terdiri atas sejumlah betalain dan molekul turunannya. Betalain sudah dikenal karena khasiatnya sebagai antioksidan, antikanker, antiviral, dan antiparasit. Betalain merupakan pigmen kelompok alkaloid yang larut dalam air terdiri atas betasianin yang berwarna violet dan betaxant hin yang berwarna kuning.
Penelitian Hilou (2006) tentang hasil liopilisasi bayamduri dan boerhaavia erecta menunjukkan bahwa kombinasi kedua ekstrak herbal ini mempunyai aktivitas skizontisidal darah malaria. Purniawan (2012) membuktikan bahwa ekstrak etanol bayam duri memiliki aktivitas skizontisidal secara in vitro. Penelitian Susantiningsih (2011) sebelumnya mengenai ektrak etanol bayamduri mampu meningkatkan survival mencit terinfeksi Plasmodium berghei. Penelitian dari Susantiningsih (2012) dengan membuat ekstraksi Sebanyak  500 g bayamduri diekstraksi dengan etanol 70%. Diperoleh ekstrak kering seberat 70,0 g. Pembuatan infusa dengan menimbang sebanyak 10 g simplisia bayamduri dicampurkan dengan akuabides sebanyak 100 ml, kemudian dipanaskan pada suhu 90°C selama 15 menit dan dihasilkan sari berupa ekstrak air bayam duri 10%. Larutan terapi diberikan kepada mencit dengan dosis yang telah ditentukan. Kemudian penelitian Susantiningsih membuktikan bahwa bayam duri dengan dosis 100 mg/kgBB mempunyai efek skizontisidal yang sama baik dengan kelompok yang diberi klorokuin, sedangkan persen penghambatan parasitemia pada kelompok yang diberi terapi ekstrak bayamduri sebesar 62, 29 ± 0,96%. Sementara, dengan dosis 10 mg/kgBB ekstrak etanol bayam duri memberikan hambatan yang cukup signifikan yaitu 69,42%.
Menurut Susantiningsih (2012), betalain dan senyawa antioksidan lain yang larut pada proses pembuatan infusa bayam duri, mempunyai kemampuan antimalaria yang sangat ampuh. Hilou et al menyatakan bahwa hal ini kemungkinan karena zat berkhasiat pada bayam duri yang menjadi pusat kerja anti malaria betanin dan amaranthin. Kedua senyawa ini mempunyai gugus orthodiphenol dan sejumlah karbon yang mampu mengkelasi kation seperti Ca2+, Fe2+, dan Mg2+ yang ada di dalam parasit.
Aktivitas antioksidan bayamduri bekerja dengan mencegah terjadinya peroksidasi lipid dan sel endotel yang juga berperan dalam mekanisme komplikasi sistemik dari malaria. Amina siklik pada betalain yang mirip dengan ethoxyquine merupakan gugus yang reaktif sehingga dengan satu gugus fenolik atau amina asiklik, betasianin dan betaxhantin mampu menjadi donor elektron yang sangat baik sehingga mampu menstabilkan senyawa radikal.

Ekstrak etanol dan infusa bayam duri (Amaranthus spinosus L.) memiliki aktivitas anti malaria terhadap mencit yang diinfeksi Plasmodium berghei. Selanjutnya, dibutuhkan penelitian-penelitian klinis mengenai bayam duri kemudian diaplikasikan di masyarakat. Bayam duri mampu menjadi pilihan pengobatan malaria terutama untuk wilayah-wilayah yang endemik malaria dan resistensi obat-obat anti malaria serta kekurangan fasilitas kesehatan untuk mewujudkan Indonesia bebas malaria [ ].

VAKSIN ANTIHIPERTENSI SEBAGAI PENGOBATAN HIPERTENSI MASA DEPAN

Oleh : Gita Perdana

Hipertensi menjadi salah satu penyakit pembunuh diam-diam (silent killer) yang dikenal sebagai penyakit kardiovaskular. Meningkatnya tekanan darah dan gaya hidup yang tidak seimbang dapat meningkatkan faktor risiko munculnya berbagai penyakit seperti arteri koroner, gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Diseluruh dunia hampir satu milyar orang menderita tekanan darah tinggi (hipertensi). Menurut WHO (2011) dua per tiga penyakit hipertensi ini terjadi di Negara berkembang. Di tahun 2025 diperkirakan 1,56 milyar orang menderita hipertensi. Hipertensi mengakibatkan 8 juta orang meninggal setiap tahunya. Dan di Asia Tenggara 1,5 juta orang meninggal dunia akibat hipertensi. Kira-kira sepertiga populasi penduduk di asia tenggara mempunyai penyakit hipertensi. Hipertensi merupakan penyebab kematian ke-3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni  mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar (2007) menunjukan prevalensi hipertensi secara nasional mencapai 31,7%.
Menurut Ikeda (2014), penyumbang terbesar penyakit hipertensi di dunia adalah Amerika dengan prevalensi sebesar 83,9% pada tahun 2009-2010 terjadi pada umur 35-49 tahun. Di Indonesia, prevalensi hipertensi sebesar 25,8% terjadi pada usia ≥ 18 tahun. Penderita hipertensi yang paling banyak berasal dari kalangan menengah ke bawah yang tinggal di perkotaan dengan status pengangguran.
Menurut Rohman (2011) penyebab tidak terkontrolnya tekanan darah tinggi sebanyak 53,2% adalah minum obat tidak teratur, keberhasilan suatu terapi tidak hanya dari ketepatan diagnosa, pemilihan dan pemberian obat yang tepat, namun kepatuhan pengobatan juga menjadi penentu keberhasilan. Khususnya untuk terapi jangka panjang pada beberapa penyakit kronis diantaranya hipertensi, kepatuhan sangatlah penting. Sebab ketidakpatuhan terhadap terapi pengobatan akan berdampak negatif terhadap kualitas hidup pasien itu sendiri. Mahalnya obat-obat untuk mengobati hipertensi tidak dapat ditanggung oleh masyarakat ekonomi lemah sehingga upaya - upaya mencari pengobatan alternatif mulai dilakukan.
Menurut Depkes RI (2006) hipertensi adalah penyakit tekanan darah tinggi di atas batas normal (120/80 mmHg). Para ahli medis menetapkan bahwa 120 - 139/80 - 89 dikatakan sebagai prehipertensi. Berdasarkan etiologi patofisiologinya hipertensi dapat dibedakan menjadi hipertensi primer (esensial) yang tidak diketahui penyebabnya dan hipertensi sekunder (non esensial) yang diketahui penyebabnya.
Guyton (1993) menyatakan bahwa mekanisme pengaturan tekanan darah dapat dibagi menjadi dua tipe yaitu pengaturan tekanan darah jangka pendek dan pengaturan tekanan darah jangka pendek. Pengaturan tekanan darah jangka panjang diperantarai oleh mekanisme ginjal cairan tubuh dan sistem renin angiotensin aldosteron. Pengaturan tekanan darah jangka pendek bekerja melalui saraf dengan pengaturan baroreseptor dan kemoreseptor pembuluh darah arteri.
Tujuan umum pengobatan hipertensi adalah menurunkan mortalitas dan morbiditas yang berhubungan dengan kerusakan organ target seperti gagal jantung, penyakit jantung koroner atau penyakit ginjal kronik. Target nilai tekanan darah yang di rekomendasikan dalam JNC VII adalah <140/90 mmHg untuk pasien dengan tanpa komplikasi, <130/80 mmHg untuk pasien dengan diabetes dan penyakit ginjal kronis (Dipiro, et al., 2008).
Obat Antihipertensi
1.             Diuretik
          Diuretik adalah obat antihipertensi yang bekerja dengan meningkatkan pengeluaran urin (diuresis) melalui kerja langsung terhadap ginjal.
2.             Penghambat enzim pengubah angiotensin (ACEi)
          ACEi menurunkan produksi angiotensin II, meningkatkan kadar bradikinin, dan menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis melalui penurunan curah jantung dan dilatasi pembuluh arteri akibat berkurangnya jumlah angiotensin II  di dalam darah. Obat-obat yang termasuk dalam golongan ini adalah kaptopril, enalapril, ramipril, lisinoril.


3.             Antagonis kalsium 
          Antagonis kalsium bekerja menurunkan tahanan vaskular dan menurunkan kalsium intraseluler. Ion kalsium di jantung mempengaruhi kontraktilitas otot jantung. Kelebihan ion ini akan menyebabkan kontraksi otot jantung meningkat sehingga akan meningkatkan tekanan darah.
4.             Penghambat reseptor angiotensin (ARB)
          ARB bekerja dengan cara menghambat ikatan antara angiotensin II dengan reseptornya. Golongan obat ini menghambat secara langsung reseptor angiotensin II tipe 1 (AT1) yang terdapat di jaringan. AT1 memediasi efek angiotensin II yaitu vasokontriksi, pelepasan aldosteron, aktivasi simpatetik, pelepasan hormon antidiuretik dan kontriksi arteriol eferen glomerulus.
5.             Penghambat reseptor beta (ß blocker)
          Penghambat ß menurunkan tekanan darah melalui penurunan curah jantung akibat penurunan denyut jantung dan kontraktilitas. Mekanisme utama penghambat ß adalah menghambat reseptor ß1 pada otot jantung sehingga secara langsung akan menurunkan denyut jantung.
6.             Penghambat reseptor alfa (a blocker)
          Reseptor a terdiri dari a1 dan a2. Reseptor a1 terdapat di jantung sedangkan reseptor a2 terdapat di otak. Kedua reseptor ini memiliki peran yang berlawanan. Aktivasi dari reseptor a1 akan meningkatkan peningkatan senyawa katekolamin, yakni epinefrin, nor epinefrin dan dopamin yang akan menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah. Prazosin, terazosin, dan doxazosin adalah penghambat reseptor a1 selektif.
7.             Agonis a2 sentral
          Klonidin dan metildopa menurunkan tekanan darah terutama dengan merangsang reseptor a2 di presinap di otak. Perangsangan ini menurunkan aliran simpatetik dari pusat vasomotor di otak. Penurunan aktivitas aimpatetik, bersamaan dengan meningkatnya aktivitas parasimpatetik, dapat menurunkan denyut jantung, cardiac output, tahanan perifer total, aktifitas plasma renin, dan refleks baroreseptor.

Setiayaningsih (2007) menyatakan vaksin DNA dibuat dengan jalan menginsersikan gen pengkodean antigen yang bertanggung jawab menginduksi respon kekebalan dengan jumlah yang cukup untuk memproteksi, ke dalam vektor plasmid eukariot. Menurut Lorenzen dan Lapatra (2005) vaksin DNA memiliki beberapa keunggulan, diantaranya adalah mudah dikembangkan, mudah diproduksi, tidak menimbulkan infeksi, bersifat stabil sehingga memudahkan dalam penyimpanan, serta mampu mengaktivasi sistem kekebalan tubuh baik humoral maupun seluler.
Para peneliti telah merancang vaksin DNA yang menargetkan angiotensin II. Hormon ini meningkatkan tekanan darah dengan menyebabkan pembuluh darah mengerut. Penyempitan ini dapat meningkatkan tekanan darah dan memaksa jantung bekerja lebih keras.
Dr. Hironori Nakagami (2015) mengatakan potensi vaksin hipertensi ini menawarkan pengobatan inovatif yang bisa sangat efektif untuk mengendalikan kepatuhan medis, yang merupakan salah satu masalah utama dalam penanganan pasien hipertensi. Vaksin DNA yang diciptakan bekerja mirip dengan obat penghambat angiotensin-converting enzyme (ACE). Vaksin menargetkan angiotensin II, suatu hormon yang menyempitkan pembuluh darah dan mengakibatkan peningkatkan tekanan darah. Tekanan darah tinggi memaksa jantung untuk bekerja lebih keras.
Dalam studi Osaka, peneliti menggunakan suntikan tanpa jarum untuk menyuntik tikus yang mengalami hipertensi tiga kali dalam interval dua minggu. Vaksin itu mampu menurunkan tekanan darah tikus selama enam bulan dan mengurangi kerusakan jaringan ke jantung dan pembuluh darah, yang berhubungan dengan hipertensi. Para ilmuwan tidak menemukan tanda-tanda lain dari kerusakan organ, seperti di ginjal atau hati.
Harapan pemanfaatan vaksin antihipertensi adalah meningkatkan kepatuhan medis pasien dan mencapai tekanan darah yang ideal. Penelitian lebih lanjut pada platform vaksin DNA ini, termasuk meningkatkan jangka waktu penurunan tekanan darah, pada akhirnya dapat memberikan pilihan terapi baru untuk mengobati pasien hipertensi yang lebih efektif dan efisien.



DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. (2006).  Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Hipertensi. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Dipiro, T.J., Talbert,L.R., Yee, C.G., Matzke, R.G., Wells, G.B., dan Posey, M.L. (2008). Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach. New York: Mc Graw Hills Company. Hal. 141-142.
Guyton, A.C. (1993). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi ketujuh. Jakarta: EGC Kedokteran. Hal. 288-339.
Hiroshi Koriyama, Hironori Nakagami, Futoshi Nakagami, Mariana Kiomy Osako, Mariko Kyutoku, Munehisa Shimamura, Hitomi Kurinami, Tomohiro Katsuya, Hiromi Rakugi, and Ryuichi Morishita. Long-Term Reduction of High Blood Pressure by Angiotensin II DNA Vaccine in Spontaneously Hypertensive Rats. Hypertension, May 2015 DOI:10.1161 / HYPERTENSIONAHA. 114. 04534.
Lorenzen, N. and S.E. Lapatra. 2005. DNA vaccine for aquaculture fish. Rev. Sci. Tech. Int. Epiz. 24 (1):201-213.
Setiyaningsih, Surachmi (2007). Pengembangan Vaksin dari Isolat Lokal Virus Avian Influenza. KKP3PT.

SWASEMBADA ENERGI MELALUI PEMANFAATAN BIOGAS

Oleh : Gita Perdana

Energi saat ini memegang peranan yang penting dalam pengembangan ekonomi nasional. Hal ini merupakan suatu hal yang tidak dipersoalkan lagi, bahkan oleh Negara-Negara yang telah maju, maupun oleh Negara yang sedang berkembang bahwa penggunaan energi secara tepat dan berdaya guna tinggi merupakan syarat yang mutlak untuk meningkatkan kegiatan ekonomi. Indonesia merupakan Negara yang memiliki berbagai jenis sumber energi dalam jumlah yang cukup melimpah.
Menurut Wacik (2012), saat ini, bahan bakar fosil berkontribusi sebesar 94% terhadap bauran energi nasional, yang terdiri atas 47% berbasis minyak bumi, 21% gas bumi, dan 26% batubara. Dengan pertumbuhan ekonomi 6,3 –6,8 per tahun, kebutuhan energi diproyeksikan tumbuh sekitar 6% pertahun sampai dengan 2014.
Namun, jumlah sumber energi yang banyak tidak menjadi jaminan kebutuhan energi nasional tercukupi untuk jangka panjang. Dibuktikan oleh PT Pertamina (Persero) yang sudah menyiapkan diri jauh-jauh hari untuk mengimpor gas alam cair (LNG) pada 2018. Jumlahnya cukup besar mencapai 7,5 juta ton pertahun. Direktur Gas dan Energi Baru Terbarukan Pertamina Yenny Andayani mengatakan, impor dilakukan karena kebutuhan gas domestik yang sangat tinggi, terutama untuk listrik dan industri. Yenny mengungkapkan, pada 2018 tersebut, total kebutuhan impor LNG Pertamina mencapai 7,5 juta ton per tahun (MTPA).
Salah satu solusi untuk mengahadapi tantangan krisis gas dan mencapai tujuan swasembada energi adalah dengan memanfaatkan biogas. Menurut Abdullah (1998), biogas merupakan suatu jenis gas yang dapat dibakar, yang diproduksi melalui proses fermentasi anaerobik bahan organik seperti kotoran ternak dan manusia, biomassa, limbah pertanian atau campuran keduannya, di dalam suatu ruangan pencerna (digester). Biogas sering pula timbul jika bahan-bahan organik seperti kotoran hewan, kotoran manusia, atau sampah, direndam dalam air dan disimpan dalam tempat tertutup atau anerobik. Menurut Sonson Garsoni, setiap harinya, output shelter Instalasi Biodegester 7.000 Liter menghasilkan biogas dengan kemurnian > 80% metan sebanyak 37,8 m3 yang memiliki daya nyala dan kalori tinggi sebagai bahan kompor guna memasak setara 17,388 kg LPG. Instalasi ini juga bisa menghasilkan energi untuk menyalakan tiga unt genset 5.000 watt sebanyak 45,46 KWh (kilowatt haou). Tambah pula, material cairan yang diperoleh dari lumpur (sludge) keluaran instalasi bisa digunakan sebagai pupuk kompos cair. Kompos cair ini bermanfaat bagi pertumbuhan vegetasi dalam reklamasi lahan tambang. Selain itu, material lumpur noncair, berupa kompos padat, akan sangat berguna bagi media tumbuh jamur tiram. Jamur tiram ini tumbuh baik pada material dengan kandungan selulosa tinggi seperti halnya kompos asal eceng gondok. Data yang diperoleh dari kajian teknologi (2007) menyebutkan bahwa nilai kalor rendah (LVH) CH4 = 50,1 MJ/kg dengan densitas CH4 = 0,717 kg/m3. Kemampuan biogas sebagai sumber energi sangat bergantung dari jumlah gas metan. Setiap satu m3 metan setara dengan 10 kWh.
Keuntungan dari penggunaan teknologi biogas adalah sebagi berikut :
a.              Biogas yang dihasilkan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan bahan bakar minyak yang relatif cukup mahal.
b.             Teknologi ini dapat mengurangi pencemaran lingkungan, karena sampah organik dapat digunakan untuk yang bermanfaat, dengan demikian kebersihan lingkungan akan tetap terjaga.
c.              Selain menghasilkan energi produk buangan akhir dapat digunakan sebagai pupuk.
Komposisi
No
Komponen Biogas
Persentase (%)
1
Metan (CH4)
55 – 65
2
Karbon dioksida
36 – 45
3
Nitrogen
0 – 3
4
Hidrogen
0 – 1
5
Hidrogen sulfide
0 – 1
6
Oksigen
0 – 1
Sumber : Energy Resources Development Series no. 19, Escap, Bangkok dalam Kadir (1987)

Penggunaan biogas sebagai energi alternatif tidak menghasilkan polusi, disamping berguna menyehatkan lingkungan karena mencegah penumpukan limbah sebagai sumber penyakit, bakteri, dan polusi udara. Keunggulan biogas adalah karena konstruksi digester sederhana, hemat ruang, awet, mudah perawatan dan penggunaannya, dan dihasilkan lumpur kompos maupun pupuk cair.
Menurut Ginting (2007), bahwa prinsip pembuatan biogas adalah adanya dekomposisi bahan organik secara anaerobik (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan suatu gas yang sebagian besar berupa metana (yang memiliki sifat mudah terbakar) dan karbondioksida. Proses dekomposisi anaerobik dibantu oleh sejumlah mikroorganisme, terutama bakteri metan. Suhu yang baik untuk proses fermentasi adalah 30-55oC Pada suhu tersebut mikroorganisme dapat bekerja secara optimal merombak bahan-bahan organik.
Biogas sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor yang sangat berpengaruh diantaranya :
1.      Bahan baku
Bahan baku sebaiknya berbentuk butiran halus, sehingga pembentukan biogas dapat berlangsung dengan sempurna.
2.      Kadar air
Menurut Buren (1979), Produksi biogas akan berjalan lancar jika presentase kandungan padatan kurang lebih 7 %. Agar dapat beraktifitas normal, bakteri penghasil biogas memerlukan substrat dalam kadar air 90 % dan kadar air padatan 7-10 %.
3.      Derajat keasaman (pH)
Bila proses fermentasi berlangsung dalam keadaan normal dan anaerobik, maka pH akan secara otomatis berkisar antara 7.0-8.5. Menurut Fry (1974) dalam Nofal (2007) bila derajat keasaman lebih
kecil atau lebih besar dari kisaran nilai pH di atas, maka bahan tersebut akan mempunyai sifat toksik terhadap bakteri metanogen.
4.      Kondisi Anaerob
Menurut Yani dan Darwis (1990) bakteri metanogen termasuk mikroorganisme anaerobik yang sangat sensitif terhadap oksigen, diketahui pertumbuhannya akan terhambat dalam konsentrasi oksigen terlarut 0.01 mg/L.
5.      Temperatur
Digester dengan suhu mesofilik merupakan yang terbaik. Menurut Yani dan Darwis (1990), hal ini dikarenakan rentang suhu 21 – 40 0C lebih mudah dijaga, dengan kadar H2S yang dihasilkan rendah dan bakteri mesofilik lebih toleran terhadap fluktuasi suhu. Suhu optimum untuk mikroba untuk menghasilkan biogas antara 30-35oC.
6.      Pengadukan
Menurut Apandi (1980) pengadukan dibutuhkan untuk menjaga agar kerak jangan sampai menumpuk di permukaan sehingga menghambat pelepasan gas dari larutannya, menghomogenkan konsentrai substrat, melepaskan karbon dioksida agar pH normal, memperbesar kontak mikroba dalam substrat, dan mencegah terjadinya toksik lokal dalam digester.
7.      C/N Ratio
Menurut Abdullah (1998) agar pertumbuhan bakteri anaerob optimum, diperlukan ratio optimum C:N berkisar antara 20:1 sampai 30:1. Perbandingan C/N dari bahan organik sangat menentukan aktifitas mikroba dan produksi biogas.
Dengan sumber bahan baku yang mudah didapat dan kualitas serta kuantitas  penelitian-penelitian mengenai biogas yang mumpuni, maka biogas mampu menjadi solusi energi terbarukan dan langkah mencapai swasembada energi. Pengelolaan sumber energi secara tepat akan memberikan manfaat dan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat [].

Saturday, March 7, 2015

Rute Pemberian Obat

Gambar Tablet, Kapsul, dan Spuit

Rute pemberian obat dibagi menjadi dua, yaitu
1. Intravaskular
Merupakan pemberian obat langsung masuk ke dalam sistem pembuluh darah sehingga tidak terjadi fase absorpsi. Contohnya seperti intravena dan intraarteri.
2. Ekstravaskular
Merupakan pemberian obat tidak langsung masuk kedalam pembuluh darah sehingga terjadi fase absorpsi. Contohnya intraperitoneal, peroral, subcutan, dsb.

Kecepatan respon obat terhadap faktor biologi
Berdasarkan percobaan, maka
1. Hewan yang dipuasakan lebih cepat memberikan respon daripada hewan yang tidak dipuasakan.
Hal ini terjadi karena pada hewan yang berpuasa tidak memiliki makanan dalam saluran pencernaannya yang berpotensi menyebabkan hambatan dan interkasi dalam penyerapan obat ke dalam pembuluh darah.
2. Hewan yang memiliki berat tubuh lebih lebih lambat memberikan respon karena luas permukaan tubuh yang lebih besar dan untuk beberapa obat yang sensitif koefisien partisi akan terganggu kerjanya karena kandungan lemak dalam tubuh yang lebih banyak.
3. Hewan jantan lebih cepat respon daripada hewan betina. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh hormon yang ada pada betina. Betina memiliki hormon yang lebih banyak. Sehingga untuk beberapa obat mampu terhambat respon tubuhnya.